Rabu, 25 Juni 2014

KONFORMITAS, PERANAN SOSIAL , DAN KETAATAN


Para psikolog mulai mencari jawaban atas pertanyaan yang mengganggu bagaimana orang-ornag biasa dapat dipengaruhi untuk melakukan kekejaman terhadap kaum Yahudi, Gipsi, dan kaum Minorotas lainnya pada perang dunia ke II. Seberapa besar orang-orang akan mengubah prilaku mereka untuk lebih selaras dengan apa yang orang lain lakukan? Seberapa mudah orang-orang mematuhi seseorang yang memiliki wewenang? Factor-faktor apa saja yang mempengaruhi apakah oranh-orang akan tahan pada pengaruh sosial? Dan pertanyaan ini masih relevan ketika kita berusaha memahami berbagai peristiwa saat ini seperti serangan kelompok yang dengki pada etnis minoritas, dan lain sebagainya. Berikut ini mengidentifikasi bagaimana manusia dipengaruhi kelompok sosial.
·         Konformitas
Konformitas adalah perubahan dalam perilaku seseorang untuk menyelaraskan lebih dekat dengan standar kelompok. Konformitas memiliki banyak bentuk dan mempengaruhi banyak aspek kehidupan seseorang. Misalnya Anak kuliah baru yang ikut dalam kelompok teman-teman yang minum-minuman keras sehingga menyebabkannya menjadi peminum, meskipun ia mungkin tidak pernah menjadi peminum sebelumnya.
Meskipun konformitas memiliki beberapa konotasi yang tidak menyenangkan tapi tidaklah keseluruhannya menjadi pengaruh yang buruk. Menyelaraskan dengan aturan dan peraturan memungkinkan masyarakat berjalan dengan lancar. Bayangkan bagaimana kacaunya jika orang-orang tidak menyelaraskan diri dengan norma sosial.
Penelitian konformitas dari Asch
Bayangkan anda berada pada situasi ini: anda memasuki ruangan dengan lima orang duduk mengitari sebuah meja. Seseorang dengan jubah putih laboratorium memasuki ruangan dan memberitahukan bahwa anda akan ikut dalam sebuah eksperimen mengenai keakuratan perceptual. Kelompok diperlihatkan dua kartu, kartu pertama berisi hanya satu garis vertical, dan kartu kedua berisi tiga garis vertical yang berbeda-beda. Tugas anda adalah menentukan mana dari ketiga garis pada kartu kedua memiliki panjang yang sama dengan garis pada kartu pertama. Anda melihat dan berfikir sudah jelas mana garis yang sama.
Yang tidak anda ketahui adalah orang lain dalam ruangan tersebut adalah sekutu yang berarti mereka bekerja untuk eksperimenter. Pada percobaan pertama setiap orang sepakat garis mana yang sama. Kemudian percobaan keempat, setiap orang memilh garis yang salah. Sebagai orang terakhir yang membuat pilihan anda mengalami dilema. Apakah menuruti apa yang anda lihat atau menyelaraskan dengan apa yg dikatakan orang sebelumnya. Menurut anda, bagaimana anda akan menjawab?
Solomon Asch melakukan eksperimen klasik mengenai konformitas (1956) ia meyakini sedikit dari subjek penelitiannya akan tunduk dengan tekanan kelompok. Untuk menguji hipotesisnya, Asch menginstruksikan sekutu untuk memberikan jawaban yang salah pada 12 dari 18 percobaan. Hal yang mengejutkannya Asch menemukan bahwa para subjek penelitian menyelaraskan dengan jawaban yang salah sebanyak 35persen. Penelitian telah menunjukkan bahwa tekanan untuk menyelaraskan kuat. Mengapa kita mau menyesuaikanbahkan ketika dihadapkan dengan informasi yang jelas? Para psikolog telah menangani pertanyaan ini dengan baik.
Beberapa faktor meningkatkan kemungkinan konformitas dengan kelompok:
1.      Ukuran kelompok.
 Konformitas akan meningkat sejalan dengan bertambahnya jumlah anggota kelompok. Semakin besar kelompok tersebut maka akan semakin besar pula kecenderungan kita untuk ikut serta, walaupun mungkin kita akan menerapkan sesuatu yang berbeda dari yang sebenarnya kita inginkan.
2.      Kesepakatan kelompok.
Kebulatan suara (Unanimity) Kelompok yang sepakat mendatangkan penyesuaian yang lebih besar dari para anggota, dibandingkan kelompok yang tidak bulat suaranya. Kehadiran suatu hal berbeda atau menyimpang memudahkan anggota lain untuk tidak menyesuaikan diri.
3.      Kebudayaan dan konformitas.
Kesesuaian terjadi pada semua budaya.

·         Social roles and Social norms
Ketika seseorang bekerja bersama dalam kelompok, upaya dari masing-masing individu perlu dikordinasiakan untuk menghindari kekacauan. Dalam menanggapi kebutuhan ini, peran sosial dan norma-norma sosial berkembang. untuk memberikan pedoman tentang apa yang diharapkan dari kita. Peran sosial memberitahukan kita bagaimana kita berprilaku. Dalam kuliah ini, kamu berperan sebagai seorang murid.

·         Ketaatan (obedience)
Ketaatan adalaha perilaku yang patuh pada perintah eksplisit individu yang ada pada posisi berkuasa. Yaitu, kita taat ketika sosok berkuasa memerintahkan kita melakukan sesuatu dan kita melakukannya. Dalam konformitas, orang-orang mengubah pikiran atau perilaku mereka sehingga akan lebih mirip dengan orang lain. Dalam ketaatan, terdapat perintah eksplisit untuk patuh.
Penelitian klasik oleh Stanley Milgram (1963,1965)
Bayangkan bahwa, sebagai bagian dari sebuah eksperimen dalam psikologi, anda diminta untuk memberikan serangkaian sengatan listrik yang menyakitkan pada orang lain. Anda diberitahu bahwa tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan dampak hukuman terhadap ingatan. Peran anda adalah menjadi ‘guru’ dan menghukum kesalahan yang dibuat oleh ‘siswa’. Setiap kali ‘siswa’ membuat kesalahan, anda meningkatkan intensitas sengatan listrikdengan jumlah tertentu.
Anda diperkenalkan pada ‘siswa’ seorang pria yang baik yang bergumam sesuatu mengenai kondisi jantungnya. Ia diikat pada ruang lain. Ia berkomunikasi dengan anda lewat intercom. Alat didepan anda memiliki 30 saklar, dengan rentang dari 15 volt (ringan) sampai 450 volt (bahaya). Sebelum eksperimen ini, anda telah diberikan sengatan listrik sebesar 75 volt untuk merasakannya.
Seiring dengan percobaan berjalan ‘siswa’ mendapatkan masalah dan tidak mampu memberikan jawaban yang benar. Haruskah anda memberikan sengatan listrik kepadanya? Seiring dengan anda meningkatkan intensitas sengatan listrik padanya, siswa berkata bahwa ia kesakitan. Pada tegangan 150 volt, ia meminta agar eksperimen dihentikan, pada tegangan 180 olt ia berteriak bahwa ia sudah tidak tahan lagi. Pada tegangan 300 volt, ia berteriak mengenai kondisi jantungnya dan memohon untuk dilepaskan. Namun, jika anda bimbang untuk memberikan sengatan listrik eksperimenter mengatakan bahwa anda tidak punya pilihan lain.
Sebelum penelitian ini milgran bertanya pada 40 psikiater bagaimana menurut mereka orang-orang berespons terhadap situasi tersebut. Para psikiater meramalkan bahwa kebanyakan ‘guru’ tidak akan memberikan sengatan listrik lebih dari 150 volt. Ternyata para psikiater salah menduga. Mayoritas ‘guru’ mematuhi eksperimenter kenyataannya hampir duapertiga memberikan sengatan listrik 450 volt.

Pria tersebut merupakan sekutu eksperimenter. Dalam penelitian milgram, siswa berpura-pura terkena sengatan listrik. Seperti yang dapat anda bayangkan para guru dalam eksperimen ini tidak nyaman memberikan sengatan lstrik pada siswa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar