Minggu, 04 Januari 2015

Lumpuh Tidak Halangi Pemuda Ini untuk Terjun Payung di Dubai


Johanes Randy detikTravel - Jumat, 28/11/2014 18:53 WIB
Dubai - Seorang Skydiver Amerika bernama Jarret Martin begitu mencintai olahraga ekstrem skydiving alias terjun payung. Meski dia telah lumpuh akibat kecelakaan, itu tidak membuatnya menyerah dan kembali melakukan aksinya di Dubai.

Saat remaja, Martin mengalami kecelakaan yang merenggut kedua kakinya saat melakukan skydiving. Dilansir oleh detikTravel dari CNN, Jumat (28/11/2014), kecintaannya pada skydiving membuatnya menjadi instruktur skydiving dengan kondisinya yang terbatas.

Jarret Martin yang berumur 24 tahun mungkin adalah sosok tidak biasa. Martin merupakan seorang instruktur di Skydive Dubai. Berbeda dengan para skydiver yang lain, ia mengenakan kursi roda. Namun, Martin adalah satu dari dua ahli parasut di Uni Emirat Arab. Wow!

Saat Martin berumur 18 tahun, salah satu aksinya bermasalah dan berakibat pada tulang punggung yang patah, aorta yang robek, paru-paru yang remuk, dan kelumpuhan pada bagian dada ke bawah. Beruntung, Martin bangun dari koma dan kembali skydiving enam bulan kemudian.

Pada bulan Maret tahun ini, Martin diajak bergabung dengan Skydive Dubai setelah aksinya dalam kompetisi di Dubai. Keadaannya di atas kursi roda sempat membuat skydiver pemula lain cemas dan khawatir, tapi Martin menjelaskan kalau perjalananya adalah inspirasi.

Prestasi pun ditorehkan oleh Martin awal tahun ini. Saat itu martin melompat dari ujung tebing di Fjord Norwegia setinggi 914 meter selama empat hari. Gilanya, Martin melompat sendiri dari kursi rodanya tanpa bantuan siapa pun.

Martin sendiri tidak menyangka kalau ia dapat pergi ke Dubai, bahkan menjadi instruktur skydiving di sana. Martin sendiri berusaha untuk melakukan 'loncatan' setidaknya 200 kali setahun. Tidak heran, kakek dan ayahnya adalah skydiver.

Martin pun mengatakan, dimana ada keinginan pasti ada jalan. Ia telah menemukan jalan, dan sangat bersyukur karena dapat melakukan kembali sesuatu yang ia cintai. Kisahnya sangat menginspirasi!
Lumpuh tidak mengahalangi Martin untuk skydiving (CNN)


teori
I.                   Marvin Zuckerman: Sensation Seeking
Menurut Zuckerman, sensation seeking dideskripsikan sebagai keinginan untuk bervariasi/beragam, baru, kompleks/rumit, sensai yang intens dan pengalaman serta kesukarelaan dalam mengambil resiko secara fisik, sosial, legal, dan secara financial demi sebuah pengalaman.
     
Assessing Sensation Seeking
Untuk mngukur sensation seeking, Zuckerman membentuk Sensation Seeking Scale (SSS), memiliki 40 pertanyaan kuisioner (Tabel 16.2). Dengan menggunakan metode factor analysis, Zuckerman (1983) mengidentifikasikan kedalam empat komponen dari sensation seeking :
1.         Thrill and adventure seeking  keinginan untuk terikat dalam aktivitas fisik yang melibatkan kecepatan, bahaya, dan hal yang menantang gravitasi seperti bungee jumping, parachuting dan scuba diving.
2.         Experience seeking  mencari pengalaman baru melalui perjalanan, lagu, seni.
3.         Disinhibition  kebutuhan untuk mencari aktivitas sosial yang liar.
4.         Boredom susceptibility.

Characteristics of Sensation Seekers
Zuckerman dan rekannya mendapatkan bahwa sensation seeking  dipengaruhi oleh usia. Orang yang lebih muda akan cenderung untuk memilih pengalaman yang baru, hal yang berisiko dan berpetualangan dibandingkan dengan orang yang lebih tua. Perbedaan gender juga didapatkan dalam empat komponen dari sensation seeking. Pria lebih memilih thrill and adventure seeking, disinhibition, dan boredom susceptibility. Sedangkan wanita lebih memilih experience seeking.


pembahasan

berdasarkan kasus diatas dapat kita lihat bahwa jaret martin adalah seorang pemuda berdasarkan usia salah satu karakteristik sensation seekers  . komponen sensation seeking yang dia miliki adalah thrill and adventure seeking dalam hal ini dapat kita lihat bahwa dia memilih olahraga ekstreem walaupun keadaannya yang tidak sempurna. experience seeking martin melakukan suatu hal berbeda dari apa yang seharusnya di lakukan. kita mengetahuiahui bahwa orang yang tidak sempurna tidak akan berani melakukan olahraga yang ekstreem tetapi martin melakukannya. martin mengatakan dimana keinginan pasti ada jalan, tidak sepeti orang sakit (cacat) pada umumnya dia melawan semua kekhwatiran tentang dirinya dan dia berhasil sehingga membuat dia menjadi instruktur skydiving ini membuktikan bahwa iya memiliki boredom susceptibility.