Sabtu, 22 Maret 2014

KELOMPOK 5

TEORI BRONFENBRENNER

Teori Urie Bronfenbrenner (1917) fokus utamanya adalah pada konteks sosial dimana anak tinggal dan orang-orang yang mempengaruhi perkembangan anak.

            Teori ekologi Bronfrnbrenner terdiri dari lima system lingkungan yang merentang dari interpersonal sampai ke pengaruh kultur yang lebih luas. Bronfenbrenner menyebut system-sistem itu sebagai mikrosistem, mesosistem, ekosistem, makrosistem, dan kronosistem.
1.        Mikrosistem adalah setting dimana individu banyak menghabiskan waktu. Dalam konteks ini, individu berinteraksi langsung dengan orangtua, guru, teman seusia, dan orang lain. Contohnya adalah ketika saya menghabiskan banyak waktu dengan keluarga saya, saling berbagi dalam cerita, tertawa bersama , makan bersama dan menikmati saat-saat yang paling berharga setiap harinya menjadikan saya menjadi orang yang paling menantikan saat-saat itu ketika kuliah karna harus jauh dari keluarga. Begitu juga dengan teman-teman yang setiap hari bertemu disekolah dan saling berbagi cerita dan bermain bersama.

2.       Mesosistem adalah kaitan antar-mikrosistem. Hubungan antara pengalaman dalam keluarga dengan pengalaman di sekolah, dan antara keluarga dengan teman sebaya. Contohnya adalah ketika saya berada dirumah, saya menjadi kakak yang cerewet bagi adik saya dan anak yang bisa berbagi cerita dengan mama dan papa saya sehingga membuat saya menjadi anak yang terbuka dan ceria. Tapi ketika saya berada dikalangan teman-teman saya, saya menjadi teman yang bijaksana dan tentunya saya tidak mengeluarkan kecerewetan saya terhadap teman-teman saya. Apalagi terhadap guru ataupun dosen, saya lebih pendiam dan tertutup.


3.       Ekosistem adalah ketika pengalaman di setting lain mempengaruhi pengalaman yang lain dalam konteks sendiri. Misalnya, dewan sekolah dan dewan pengawas taman di dalam suatu komunitas. Mereka memegangi peran kuat dalam menentukan kualitas sekolah, taman, fasilitas rekreasi, dan perpustakaan. Keputusan mereka bisa membantu atau menghambat perkembangan anak. Contohnya adalah ketika sekolah membuat suatu keputusan didalam kurikulum yang baik anak-anak menyesuaikan perubahan yang ada.

4.       Makrosistem adalah kultur yang luas. Kultur adalah istilah yang mencakup peran etnis dalam perkembangan anak. Kultur adalah sebuah konteks di mana murid dan guru tinggal, termasuk nilai dan adat istiadat masyarakat. Budaya tentu saja sangat mempengaruhi kehidupan kita, sebagai orang yang hidup dalam budaya batak, keluarga saya cukup menjalankan budaya dengan baik. Kalau didalam budaya batak anak laki-laki bagaikan harta yang sangat berharga dulunya. Dulu juga dapat kita lihat sendiri orang-orang yang mendapat pendidikan, bekerja dan orang-orang yang menjadi pemimpin adalah seorang lelaki. Tapi kini semuanya menjadi sama rata peranan laki-laki dan perempuan dalam segala hal sudah menjadi rata. Begitu juga dikeluarga saya, orangtua saya tidak pernah membedakan kasih sayang mereka terhadap anak laki-laki maupun anak perempuan mereka.  Salah satu aspek dari status sosiekonomi murid adalah faktor perkembangan dalam kemiskinan. Kemiskinan dapat memengaruhi perkembangan anak dan merusak kemampuan mereka untuk belajar, meskipun beberapa anak di lingkungan yang miskin sangat ulet.


5.       Kronosistem adalah kondisi sosiohistoris dari perkembangan anak. Anak-anak sekarang adalah generasi pertama yang mendapatkan perhatian setiap hari, generasi pertama yang tumbuh di lingkungan elektronikyang dipenuhi oleh komputer dan bentuk media baru, generasi yang tumbuh dalam revolusi seksual, dan generasi pertama yang tumbuh di dalam kota yang semrawut dan tak terpusat, yang tidak lagi jelas batas antara kota, pedesaan atau subkota. Anak-anak yang hidup dalam era sekarang ini memeng sangat dimanjakan oleh kemajuan IPTEK, membuat mereka menjadi anak yang kurang berusaha dan individualis. Ini dapat menyebabkan perkembangan anak-anak tidak berkembang dengan baik dan dapat merusak perkembangan anak-anak kalau tidak dimanfaatkan dengan baik. Dikeluarga saya adik-adik say memang ikut menikmati kemajuan IPTEK tapi semuanya itu dibawah pengawasan orang tua saya, agar mereka memanfaatkannya dengan baik

Sekian postingan hari ini semoga bermanfaat buat kita se

Rabu, 12 Maret 2014

PSIKOLOGI PENDIDIKAN


BELAJAR
Belajar adalah pengaruh permanen atas perilaku pengetahuan dan keterampilan berpikir yang diperoleh dari pengalaman. Setiap masa kita belajar. Misalnya, kita belajar tentang iklan yang kita baru tonton, memiliki perasaan terhadap seseorang, kita kecewa dengan sesuatu perbuatan dan sebagainya. Pembelajaran berlaku melalui kelima panca indera kita:
  • Penglihatan                 : melihat ('visual') kejadian sesuatu peristiwa
  • Pendengaran               : mendengar ('auditory') sesuatu bunyi
  • Bau                              : Bau ('olfactory') makanan membuat kita merasa lapar
  • Rasa                            : Lidah kita merasa ('taste') dan dapat membedakan
  • Sentuhan                     : Kulit kita merasa sentuhan ('tactile') dan dapat membedakan antara permukaan licin dan permukaan kasar.

CLASSICAL CONDITIONING
Ivan Pavlov menjalankan satu percobaan secara sistematik dan saintifik dengan tujuan mengkaji bagaimana pembelajaran berlaku pada sesuatu organisme. Pavlov berpendapat bahwa proses asas pembelajaran ialah pembentukan perkaitan antara STIMULUS  dan sesuatu RESPONSE .  Pavlov coba membuktikan teori pembelajaran ini dengan menjalankan percobaan  pada anjing.




Dari percobaan yang dia lakuakan Pavlov membuat kesimpulan bahwa anjing tersebut telah 'belajar' mengaitkan makanan yang dilihat dengan makanan yang akan diberikan kelak. Pavlov melanjutkan kajiannya dengan menguji hipotesis bahwa suatu organisme dapat diajar bertindak dengan pemberian sesuatu rangsangan.

OPERANT CONDITIONING
Dipelopori oleh B.F. Skinner. Operant conditioning ialah apabila organisme menghasilkan sesuatu gerak balas karena organisme itu berperan (atau operating) yang menghasilkan konsekuensi dari lingkungan sekitarnya. Dan operan conditioning Dipopulerkan juga oleh Edward Thorndike (Hukum Belajar , yaitu: Law of Effect, Law of Exercise, Law of Readiness).






Rabu, 12 Maret 2014

·         Pengaruh Teknologi Terhadap Psikologi Seseorang
Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.Penggunaan teknologi oleh manusia diawali dengan pengubahan sumber daya alam menjadi alat-alat sederhana.Teknologi Informasi adalah istilah umum yang menjelaskan teknologi apa pun yang membantu manusia dalam membuat, mengubah, menyimpan, mengomunikasikan dan/atau menyebarkan informasi.
Dampak positif dan  Negatif  teknologi
Teknologi memiliki pengaruh psikologi bagi seseorang, Tapi taukah kalian bahwa teknologi memiliki dampak positif dan negative bagi penggunanya. Nah, dampak positifnya adalah yang pasti mempermudah kita mendapatkan informasi, menjadikan kita menjadi orang-orang yang lebih kreatif, dan masih banyak lagi. Dampak negatif dari perkembangan internat bagi psikologis pengguna diantaranya adalah menurunnya moral pengguna. Penurunan moral ini sangat berkaitan dengan pornografi yang tersebar bebas di internet dan dapat diakses oleh umum. Lalu dapat menyebabkan dampak anti sosial bagi pengguna. Hal ini mungkin baru kiat dengar, tetapi dalam beberapa kasus hal ini memang ada. Dampak anti sosial ini terjadi karena si pengguna menjadi addict (ketagihan) terhadap internet itu sendiri. Mengapa? karna si  pengguna akan lebih nyaman berada dan berinteraksi di dunia maya dibandingkan dengan di dunia nyata, sehingga dia lebih memilih internet daripada hal lain hal ini biasa disebut dengan internet addiction.
Dalam kasus lain, dampak negatif dari internet terhadap psikologis pengguna adalah si pengguna menjadi pribadi yang tertutup. Hal ini biasanya disebabkan karena si pengguna telah “bersahabat baik” dengan dunia maya tanpa batas ini sendiri yaitu dengan membiasakan diri bercerita tentang apa yang dia rasakan di fasilitas – fasilitas internet contohnya di blog, jejaring sosial, dll.

Oleh karna itu jadilah orang yang bijaksana dalam menggunakan teknologi, sudah tau dampak positif dan negatifnya, nah sekarang tinggal menentukan yang mana yang akan anda ambil dan pilih dalam perkembangan teknologi yang sangat pesat.

Kamis, 06 Maret 2014

DEWI SITEPU                131301097
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA



      BAB II
TEKNIK PENYUSUNAN KARANGAN ILMIAH
2.1 Karangan Ilmiah
            Karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuanyang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Karya ilmiah dapat juga berarti tulisan yang didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya/ keilmiahannya. Sebagai sarana penting dalam pengembangan dan penyebaran ilmu pengetahuan dan teknologi, karangan ilmiah itu harus bersifat objektif, bukan subjektif harus menggunakan bahasa Indonesia yang memenuhi kaidah baku bahasa Indonesia, serta disusun secara sistematis, dan setiap bagian-bagiannya harus saling mendukung atau koheren.
            Karangan ilmiah yang baik dapat memberikan informasi mengenai bermacam-macam ilmu pengetahuan. Dalam penyampaian informasi tersebut digunakan bahasa yang mudah dipahami oleh para pembaca. Melalui karangan ilmiah itu para penuntut ilmu memperoleh informasi sesuai dengan bidang keahlian yang ditekuninya. Dengan banyak membaca karangan ilmiah, di samping dapat menambah wawasan dengan sendirinya puladapat menarik minat pembaca untuk menuangkan apa yang diperoleh atau dibacanya melalui tulisan, seperti artikel, makalah, buku, dan sebagainya.

2.2 Jenis-jenis Karangan Ilmiah
Karangan ilmiah itu menyajikan suatu fakta atau bidang ilmu yang bersifat objektif dan dapat dibuktikan atau diuji kebenarannya. Ditinjau dari hasil, tingkat atau isi karangan itu, ada beberapa karangan ilmiah seperti artikel, jurnal, makalah, laporan penelitian, skripsi, tesis, buku-buku pelajaran dan sebagainya.
Disampingkarangan ilmiah, ada beberapa karangan yang bersifat fiksi atau non ilmiah seperti pantun, prosa, puisi, cerpen, roman, novel dan sebagainya. Karangan ini memiliki suatu kebebasan , baik metode pengungkapannya, maupun bahasa yang digunakan (nonbaku), lebih menitik beratkan pada nilai estetis atau keindahan bahasa sehingga menarik untuk dibaca dan tidak membosankan. Karangan fiksi tidak dibahas dalam makalah ini, cukup hanya menyinggung perbedaan antara karangan ilmiah dan karangan fiksi saja. Barikut ini beberapa jenis karangan ilmiah dan pengertiannnya:
1.      Makalah
Tulisan resmi yang mengkaji suatu sub-bahasan / permasalahan oleh orang yang ahli pada bidangnya (sesuai dengan permasalahan yang dibahas) yang hasilnya akan dipublikasikan dan disampaikan secara tuntas mengenai pembahasan tersebut di muka umum, dan hasil dari pembahasan tersebut akan dipertanggung jawabkan oleh penulis.
2.      Skripsi
Karangan ilmiah yang wajib ditulis oleh mahasiswa sebagai bagian dari persyaratan akhir pendidikan akademisnya. Skripsi wajib dikerjakan oleh mahasiswa dengan tujuanya agar  mahasiswa tersebut dapat memahami dan mempraktekkan suatu penelitian yang telah dipelajari selama dibangku perkuliahan, mengerjakan skripsi membutuhkan bantuan dari dosen pembimbing, tugas dari dosen pembimbing tersebut untuk memberi arahan dan petunjuk kepada mahasiswa dalam pengerjaan skripsinya serta menjadi konsultan dari mahasiswa tersebut agar mahasiswa dapat menghasilkan suatu skripsi yang sesuai dengan cara yang telah dibakukan dan sesuai dengan teori yang ada.
3.      Tesis
Pernyataan atau teori yang didukung oleh argumen - argumen untuk dikemukakan, khususnya berupa karangan untuk mendapatkan suatu gelar kesarjanaan pada suatu universitas. Tesis merupakan hasil dari studi yang sistematis atas masalah, tesis mengandung metode pengumpulan, analisis dan pengolahan data, dan menyajikan kesimpulan serta mengajukan rekomendasi.
4.      Disertasi
Karangan ilmiah yang ditulis untuk memperoleh gelar doktor. Di dalam disertasi dituntut untuk memberikan sumbangsihnya terhadap ilmu pengetahuan.

5.      Laporan Penelitian
Suatu karya ilmiah yang ditulis setelah penulis melakukan suatu penelitian yang didalamnya telah melakukan suatu eksperimen ataupun pengamatan terhadap suatu masalah / bahasan dengan melakukan tes dan pengukuran. Laporan penelitian merupakan suatu rangkuman dari hasil selama meneliti suatu permasalahan, laporan penelitian harus ditulis secara jujur sesuai dengan apa yang telah dilakukan pada penelitiannya baik hasil maupun pengaruh yang telah ditemukan dalam penelitiannya. Orang yang menulis suatu laporan penelitian harus mempunyai kemampuan dalam menulis laporan, karena harus sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan.
6.      Laporan Khusus
Suatu tulisan yang dikerjakan setelah melihat suatu kejadian permasalahan, tujuan dari ditulisnya laporan kasus adalah untuk menceritakan secara lengkap dan jelas mengenai apa yang telah dilihat dari suatu masalah. Didalam laporan kasus penulis tidak perlu memberikan laporan mengenai cara-cara dalam menyelesaikan suatu permasalahan tersebut, namun hanya menyampaikan secara detail apa yang telah dilihat saja.
7.      Laporan Tinjauan
Suatu tulisan yang dikerkajan untuk disampaikan kepada lembaga atau umum berdasarkan hasil pengamatan terhadap hal yang telah diteliti, laporan tinjauan berbeda dengan laporan penelitian karena dalam melakukan suatu penelitian tidak melakukan tes dan pengukuran secara langsung terhadap hal yang telah diteliti tersebut, akan tetapi hanya melakukan pengamatan terhadap suatu hal yang telah diteliti tersebut.
8.      Monograf
Tulisan (karangan, uraian) mengenai satu bagian dari suatu ilmu atau mengenai suatu masalah tertentu. Monograf ditulis dengan tujuan untuk memberikan keterangan kepada pembaca, agar pembaca dapat mengerti mengenai apa yang telah ditulis oleh penulis. Isi dari monograf harus saling berkaitan dari satu bab ke bab yang lain, monograf merupakan suatu karya ilmiah dan sasarannyapun ditujukan kepada orang-orang yang mempunyai pemikiran yang berdasarkan keilmuan.
9.      Kabilitasi
Tulisan dibuat dengan tujuan memberikan informasi kepada publik, yang dilakukan pada acara tertentu. Biasanya kabilitasi terbit setiap Minggu sekali atau satu bulan sekali dalam suatu pertemuan rutin.

2.3 Tujuan dan Manfaat Karangan Ilmiah
            Setiap karanagan itu memiliki Tujuan dan manfaat yang besar bagi penulisnya maupun pembacanya. Karangan ilmiah merupakan suatu karya yang amat penting untuk meningkatkan sumber daya manusia, dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuan dari karangan ilmiah antara lain:
·         Sebagai wahana melatih mengungkapkan pemikiran atau hasil penelitiannya dalam bentuk tulisan ilmiah yang sistematis dan metodologis.
·         Menumbuhkan etos ilmiah di kalangan mahasiswa, sehingga tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menjadi penghasil (produsen) pemikiran dan karya tulis dalam bidang ilmu pengetahuan, terutama setelah penyelesaian studinya.
·         Karya ilmiah yang telah ditulis itu diharapkan menjadi wahana transformasi pengetahuan antara sekolah dengan masyarakat, atau orang-orang yang berminat membacanya.
·         Membuktikan potensi dan wawasan ilmiah yang dimiliki mahasiswa dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam bentuk karya ilmiah setelah yang bersangkutan memperoleh pengetahuan dan pendidikan dari jurusannya.
·         Melatih keterampilan dasar untuk melakukan penelitian.
Adapun manfaat yang besar yang diperoleh dari karangan ilmiah antara lain:
·         Penulis akan terlatih mengembangkan keterampilan membaca yang efektif sebelum menulis karangan ilmiah
·         Penulis terlatih menggabungkan hasil bacaan dari berbagai buku sumber, mengambil sarinya dan mengembangkannya ke tingkat pemikikran yang lebih bernas.
·         Penulis akan berkenalan dengan kegiatan perpustakaan seperti mencari bahan bacaan dalam catalog pengarang atau catalog judul buku.
·         Penulis bisa meningkatkan keterampilan mengorganisasikan dan menyajikan fakta secara jelas dan sistematis.
·         Penulis memperolwh kepuasan intelektual.
·         Penulis turut memperluas cakrawala berpikir dan ilmu pengetahuan masyarakat.

2.4 Sikap Ilmiah
Sikap ilmiah adalah sikap yang seharusnya dimiliki oleh seorang penulis, untuk dapat melalui proses penulisan karngan ilmiah yang baik dan hasil yang baik pula.
 Sikap-sikap ilmiah meliputi:
a. Obyektif terhadap fakta. Obyektif artinya menyatakan segala sesuatu tidak dicampuri oleh perasaan senang atau tidak senang.
b. Tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan bila belum cukup data yang mendukung kesimpulan itu.
Contoh: Ketika seorang penulis menemukan hasil pengamatan suatu burung mempuyai paruh yang panjang dan lancip, maka dia tidak segera mengatakan semua burung paruhnya panjang dan lancip, sebelum data-datanya cukup kuat mendukung kesimpulan tersebut.
c. Berhati terbuka artinya bersedia menerima pandangan atau gagasan orang lain, walaupun gagasan tersebut bertentangan dengan penemuannya sendiri. Sementara itu, jika gagasan orang lain memiliki cukup data yang mendukung gagasan tersebut maka ilmuwan tersebut tidak ragu menolak temuannya sendiri.
d. Tidak mencampur adukkan fakta dengan pendapat.
Contoh: Tinggi batang kacang tanah di pot A pada umur lima (5) hari 2 cm, yang di pot B umur
lima hari tingginya 6,5 cm. Orang lain mengatakan tanaman kacang tanah pada pot A terlambat pertumbuhannya, pernyataan orang ini merupakan pendapat bukan fakta.
e. Bersikap hati-hati. Sikap hati-hati ini ditunjukkan oleh ilmuwan dalam bentuk cara kerja yang didasarkan pada sikap penuh pertimbangan, tidak ceroboh, selalu bekerja sesuai prosedur yang telah ditetapkan, termasuk di dalamnya sikap tidak cepat mengambil kesimpulan. Pengambilan kesimpulan dilakukan dengan penuh kehati-hatian berdasarkan fakta-fakta pendukung yang benar-benar akurat.
f. Sikap ingin menyelidiki atau keingintahuan (couriosity) yang tinggi. Bagi seorang ilmuwan hal yang dianggap biasa oleh orang pada umumnya, hal itu merupakan hal penting dan layak untuk diselidiki.apabila menghadapi suatu masalah yang baru dikenalnya,maka ia beruasaha mengetahuinya; senang mengajukan pertanyaan tentang obyek dan peristiwa; kebiasaan menggunakan alat indera sebanyak mungkin untuk menyelidiki suatu masalah; memperlihatkan gairah dan kesungguhan dalam menyelesaikan eksprimen.
g. Sikap menghargai karya orang lain, Tidak akan mengakui dan memandang karya orang lain sebagai karyanya, menerima kebenaran ilmiah walaupun ditemukan oleh orang atau bangsa lain.
h. Sikap tekun, Tidak bosan mengadakan penyelidikan, bersedia mengulangi eksprimen yang hasilnya meragukan’ tidak akan berhenti melakukan kegiatan –kegiatan apabila belum selesai; terhadap hal-hal yang ingin diketahuinya ia berusaha bekerja dengan teliti.

2.5 Waktu Penyusunan Karangan Ilmiah
            Waktu yang dibutuhkan dalam penyusunan suatu karangan ilmiah berbeda-beda, tergantung pada luas atau sempitnya masalah yang dikaji. Waktu yang diperlukan untuk penyusunan makalah, tentu lebih singkat daripada penyusunan kertas kerja atau laporan penelitian, skripsi, testis, dan disertai yang justru membutuhkan waktu yang jauh lebih lama daripada karangan ilmiah lainnya.
            Pengalokasian waktu itu dibutuhkan supaya kita dapat bekerja secara sistematis sesuai dengan procedural dan selesai tepat waktu pada waktu yang ditetapkan. Dengan demikian, fakta dan data yang diperoleh di lapangan library study atau field study itu lebih bervariasi, yang kemudian diolah secara objektif empiris. Hambatan-hambatan yang ditemukan selama pengumpulan data dan buku-buku yang berhubungan dengan masalah yang sedang diteliti membutuhkan waktu pengorganisasian data dan fakta tersebut. Agar lebih jelas dan terpadu,kita harus membuat mata jadwal kegiatan yang mesti kita patuhi.

2.6 Jadwal Kegiatan
            Penyusunan jadwal kegiatan merupakan rencana kerja yang berisikan tahap-tahap yang harus ditempuh dalam penyusuna karangan ilmiah. Penyusunan jadwal kegiatan ini harus disesuaikan dengan jenis karangan ilmiah yang akan disusun tersebut. Supaya karangan itu selesai pada waktunya jadwal yang telah dibuat atau diperkirakan harus dipatuhi.

2.7 Langkah-langkah Penyusunan Karangan Ilmiah
I. PERSIAPAN PENULISAN KARYA ILMIAH
Pada dasarnya, hal terpenting yang harus dipikirkan oleh seorang penulis karya ilmiah pada tahap persiapan ini adalah Pemilihan Topik. Yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan topik adalah :
1.      Pemilihan Topik/ Masalah untuk Karya Ilmiah
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan pada saat menentukan topik untuk karya ilmiah. Dalam penulisannya harus mengikuti kaidah kebenaran isi, metode kajian, serta tata cara penulisannya yang bersifat keilmuan. Salah satu cara untuk memenuhi kaidah tersebut adalah dengan melakukan pemilihan topik yang jelas dan spesifik. Pemilihan unuk kerya tulis ilmiah dapat dilakukan dengan cara;


a.       Merumuskan tujuan
Rumusan tujuan yang jelas dan tepat menjadi sangat penting untuk dapat menghasilkan karya tulis ilmiah yang terfokus bahasannya. Tips yang dapat dilakukan untuk merumuskan tujuan diantaranya;
1)    Usahakan merumuskan tujuan dalam satu kalimat yang sederhana;
2)   Ajukan pertanyaan dengan menggunakan salah satu kata tanya terhadap rumusan yang kita buat;
3)   Jika kita dapat menjawab dengan pasti pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan, berarti rumusan tujuan yang kita buat sudah cukup jelas dan tepat.
b.    Menentukan Topik
Langkah pertama yang harus dilakukan dalam menentukan topik adalah menentukan ide-ide utama. Kemudian uji dan tanya pada diri sendiri apakah ide-ide itu yang akan kita tulis.
c.    Menelusuri Topik
Bila topik telah ditentukan, kita masih harus memfokuskan topik tersebut agar dalam penulisannya tepat sasaran. Beberapa langkah yang dapat ditempuh dalam memfokuskan topik;
1)    Fokuskan topik agar mudah dikelola;
2)    Ajukan pertanyaan

2.      Mengidentifikasi Pembaca Karya Ilmiah
Kewajiban seorang penulis karya ilmiah adalah memuaskan kebutuhan pembacanya akan informasi, yaitu dengan cara menyampaikan pesan yang ditulisnya agar mudah dipahami oleh pembacanya. Sebelum menulis, kita harus mengidentifikasi siapa kira-kira yang akan membaca tulisan kita. Hal tersebut perlu dipertimbangkan pada saat kita menulis karya tulis ilmiah agar tulisan kita tepat sasaran.

3.      Menentukan Cakupan Isi Materi Karya Ilmiah
Cakupan materi adalah jenis dan jumlah informasi yang akan disajikan di dalam tulisan.
            II. PENGUMPULAN INFORMASI UNTUK PENULISAN KARYA ILMIAH
A.    MEMANFAATKAN PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUMBER DATA, INFORMASI, DAN BAHAN UNTUK TULISAN
Perpustakaan pada umumnya menyediakan berbagai koleksi data atau informasi yang terekam dalam berbagai bentuk media, seperti media cetak dan media audiovisual. Hal pertama yang harus kita lakukan pada saat memasuki perpustakaan adalah memahami di mana letak sumber informasi yang dibutuhkan berada. Salah satu tempat yang patut kita tuju adalah bagian referensi. Bagian referensi ini biasannya berisi koleksi tentang encyclopedia, indeks, bibliografi, atlas dan kamus.

1.    Mencari Buku dengan Online Catalog dan Card Catalog
Pencarian buku dengan cara Online Catalog biasanya menggunakan terminalkomputer. Kita dapat mencari buku dengan judul dan nama penulis yang jelas atau minta kepada komputer untuk mencarikan file-file yang berkaitan dengan topik yang sedang kita tulis.
Selain menggunakan komputer, kita juga dapat menggunakan Card Catalog untuk mencari buku atau artikel yang kita butuhkan. Pada umumnya, buku koleksi perpustakaan didata dalam 3 (tiga) jenis kartu katalog, yaitu katalog yang berisi data tentang pengarang/ penulis, judul buku dan subjek/ topik tertentu.

2.    Memeriksa Bahan-Bahan Pustaka yang Telah Diperoleh
Setelah bahan pustaka terkumpul kita harus memeriksa bahan-bahan tersebut apakah sesuai atau tidak dengan topik yang kita tulis. Cara memeriksa bahan pustaka tersebut adalah;
a.    Atur waktu membaca
b.    Bacalah secara selektif
c.    Bacalah secara bertanggung jawab
d.    Bacalah secara kritis

3.    Membuat Catatan dari Bahan-bahan Pustaka
Salah satu cara terbaik dan paling sederhana dalam membuat catatan ini adalah selalu mengacu pada kartu indeks yang telah kita buat.

4.    Membuat Ringkasan dan ‘Paraphrasing’
Disamping membuat catatan, kita pun dapat membuat ringkasan atau paraphrasing dari sumber  bacaan yang kita dapatkan di dalam menunjang keberhasilan proyek tulisan kita.

5.    Membuat Kutipan
Kita harus mengutip dengan persis dan apa adanya pernyataan dari sumber bacaan yang kita gunakan jika pernyataan tersebut merupakan pandangan mendasar dari penulis dan jika kita ubah ke dalam bahasa kita sendiri akan mengaburkan arti sesungguhnya.

B.    MELAKUKAN WAWANCARA UNTUK MENDAPATKAN INFORMASI UNTUK TULISAN
Ada empat hal yang harus diperhatikan pada saat akan melakukan wawancara untuk keperluan proyek penulisan karya ilmiah, yaitu;
1.    Menentukan orang yang tepat untuk diwawancarai
2.    Mempersiapkan pedoman wawancara
3.    Melaksanakan wawancara
4.    Mengolah hasil wawancara

III. TAHAP PROSES PENULISAN
Tahap Penulisan merupakan perwujudan tahap persiapan ditambah dengan pembahasan yang dilakukan selama dan setelah penulisan selesai.

§  Tahap Pra Penulisan
1.  Pemilihan dan pembatasan topik
2.  Merumuskan tujuan
3.  Mempertimbangkan bentuk karangan
4.  Mempertimbangkan pembaca
5.  Mengumpulkan data pendukung
6.  Merumuskan judul
7.  Merumuskan tesis
8.  Penyusunan ide dalam bentuk karangan atau outline

§  Pemilihan Topik
1.       Apa yang akan kita tulis?
2.       Topik dapat diperoleh dari berbagai sumber.
3.       Empat syarat: keterkuasaian, ketersediaan bahan, kemenarikan, kemanfaatan.
4.       Agar lebih fokus, topik perlu dibatasi.

§  Tahap Penulisan Draf
1.       Mengekspresikan ide-ide ke dalam tulisan kasar.
2.       Pengembangan ide masih bersifat tentatif.
3.      Pada tahap ini, konsentrasikan perhatian pada ekspresi/gagasan, bukan pada aspek-aspek  mekanik.

§  Tahap Revisi
-          Memperbaiki ide-ide dalam karangan, berfokus pada penambahan, pengurangan, penghilangan, penataan isi sesuai dengan kebutuhan pembaca.
-          Kegiatan: (a) membaca ulang seluruh draf, (b) sharing atau berbagi pengalaman tentang draf kasar karangan dengan teman, (c) merevisi dengan memperhatikan reaksi, komentar/masukan.

§  Tahap Penyuntingan
-          Memperbaiki perubahan-perubahan aspek mekanik karangan.
-          Memperbaiki karangan pada aspek kebahasaan dan kesalahan mekanik yang lain.
-          Aspek mekanik antara lain: huruf kapital, ejaan, struktur kalimat, tanda baca, istilah, kosakata,
format karangan.

§  Tahap Publikasi
-          Tulisan akan berarti dan lebih bermanfaat jika dibaca orang lain.
-          Sesuaikan tulisan dengan media publikasi yang akan kita tuju.

IV. TAHAP EVALUASI
Tahap terakhir yaitu verifikasi atau evaluasi, apa yang dituliskan sebagai hasil dari tahap iluminasi itu diperiksa kembali, diseleksi, dan disusun sesuai dengan fokus tulisan. Mungkin ada bagian yang tidak perlu dituliskan, atau ada hal-hal yang perlu ditambahkan, dan lain-lain. Mungkin juga ada bagian yang mengandung hal-hal yang peka, sehingga perlu dipilih kata-kata atau kalimat yang lebih sesuai, tanpa menghilangkan esensinya.
Ada lima kriteria yang bisa kita gunakan untuk mengevaluasi setiap bagian dari menulis sebagai berikut :
Ã’ Fokus.
Apa yang Anda menulis tentang? Apa klaim atau tesis Anda membela? Kriteria ini adalah yang luas, berkaitan dengan konteks, tujuan, dan koherensi dari sepotong tulisan. Apakah topik Anda sesuai untuk tugas? Apakah Anda tetap pada topik itu atau terlena pada garis singgung tidak membantu? Apakah Anda berfokus terlalu teliti atau terlalu banyak? Misalnya, esai tentang Perang Saudara Amerika pada umumnya mungkin terlalu luas untuk esai perguruan tinggi yang paling. Anda mungkin akan lebih baik menulis tentang pertempuran tertentu, umum, atau kejadian.
Ã’ Pembangunan.
Pembangunan berkaitan dengan rincian dan bukti. Apakah Anda menyediakan cukup bahan pendukung untuk memenuhi harapan pembaca Anda? Sebuah laporan penelitian yang tepat, misalnya, biasanya mencakup banyak referensi dan kutipan untuk banyak karya lain yang relevan beasiswa. Sebuah deskripsi lukisan mungkin akan mencakup rincian tentang, komposisi penampilan, dan bahkan mungkin informasi biografis tentang seniman yang melukisnya. Memutuskan apa rincian untuk menyertakan tergantung pada penonton dimaksudkan sepotong. Sebuah artikel tentang kanker ditujukan untuk anak-anak akan terlihat sangat berbeda dari satu ditulis untuk warga senior.
Ã’ Organisasi
Organisasi, sering disebut “pengaturan,” menyangkut ketertiban dan tata letak kertas. Secara tradisional, kertas dibagi menjadi, tubuh kesimpulan pengenalan, dan. Paragraf terfokus pada gagasan utama tunggal atau topik (kesatuan), dan transisi di antara kalimat dan paragraf yang halus dan logis. Sebuah rambles kertas kurang terorganisir, melayang di antara topik yang tidak berhubungan dengan cara serampangan dan membingungkan.
Ã’ Gaya
Gaya secara tradisional berkaitan dengan kejelasan, keanggunan presisi, dan. Sebuah stylist yang efektif tidak hanya mampu menulis dengan jelas untuk penonton, tetapi juga bisa menyenangkan mereka dengan bahasa menggugah, metafora, irama, atau kiasan. Penata Efektif bersusah payah tidak hanya untuk membuat titik, namun untuk membuatnya dengan baik.

Ã’ Konvensi
Kriteria ini meliputi tata bahasa, mekanik, tanda baca, format, dan isu-isu lain yang ditentukan oleh konvensi atau aturan. Meskipun banyak siswa berjuang dengan konvensi, pengetahuan tentang di mana untuk menempatkan koma dalam sebuah kalimat biasanya tidak sepenting apakah kalimat yang berharga untuk menulis di tempat pertama. Namun demikian, kesalahan yang berlebihan dapat membuat bahkan seorang penulis brilian tampak ceroboh atau bodoh, kualitas yang jarang akan terkesan pembaca seseorang.

2.8 Tata Tertib Karangan Ilmiah
            Tata tertib karangan ilmiah adalah aturan, prosedur, dan system yang digunakan dalam menulis atau membuat suatu karangan yang meliputi dua hal yaitu bentuk karangan ilmiah dan sistematika karangan ilmiah itu sendiri.

2.8.1 Sistem Pengaturan
1)      Bahan dan Teknik Pengetikan
1. Kertas
a. Kertas yang digunakan untuk menulis karya ilmiah adalah kertas HVS 80 gram
berukuran A4 (21,0 cm x 29,7 cm)
b. Sampul (kulit luar) berupa soft cover dari bahan buffalo atau linen pada saat
ujian karya ilmiah dan hard cover setelah ujian (revisi) dan dinyatakan lulus
dengan warna magenta.
c. Pembatas antara bab yang satu dengan bab lainnya diberikan pembatas
kertas doorslag warna magenta berlogo Universitas Negeri.
            Jumlah halaman karangan ilmiah itu berbeda-beda sesuai jenisnya. Makalah dan proposal jumlah halamannya berkisar 10-15 halaman termasuk daftar isi, dan daftar pustaka sedangkan skripsi tidak kurang dari 50 halaman, boleh saja skripsi itu 70-100 halaman.


2. Jenis Huruf
a. Naskah karya akhir menggunakan jenis huruf yang sama, dari awal sampai
akhir, yaitu Times New Roman, ukuran font 12, kecuali judul bab digunakan
ukuran font 14 dan footnote dengan ukuran font 9.
b. Huruf tebal digunakan untuk judul bab, sub bab, tabel, gambar dan lampiran
c. Huruf miring dapat digunakan untuk tujuan tertentu, misalnya istilah/kata
dalam bahasa asing, atau kata yang ingin ditekankan.

3. Margin
Batas pengetikan dari tepi kertas untuk naskah karya ilmiah adalah sebagai berikut
Tepi atas 4 cm,  Tepi bawah 3 cm, Tepi kiri 4 cm, dan Tepi kanan 3 cm

2)      Menulis Kutipan
Kutipan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu kutipan langsung dan kutipan tidak
langsung. Kutipan langsung adalah peneliti mengambil kutipan sesuai dengan sumber
aslinya. Kutipan yang tidak lebih dari tiga baris diketik dua spasi dengan cara
memberikan tanda petik diantara teks yang dikutip dan diberi nomor kutipan. kutipan
yang menggunakan istilah atau bahasa asing dicetak miring dan diberi nomor kutipan
Ini dapat dilihat pada contoh berikut :
Menurut Hawkins, Best dan Cooney mengemukakan pengertian sikap bahwa : “Attitude
is an enduring organizational, emotional, perceptual an cognitive process with respect to
some aspect environmental (Sikap adalah suatu organisasi yang bertahan lama dari
motivasi, emosi, persepsi, dan proses kognitif dengan menghargai beberapa aspek
lingkungan)’.
Sedangkan kutipan tidak langsung adalah peneliti menggambarkan suatu teori
berdasarkan sumber kutipan.

3)      Catatan Kaki
Pencantuman catatan kaki diperlukan dalam penulisan karya ilmiah. Hal ini dilakukan
untuk mengetahui sumber referensi yang menjadi kajian peneliti. Adapun usur pokok
dalam catatan kaki adalah nama penulis, judul tulisan, data publikasi (kota tempat terbit,
nama penerbit, dan tahun penerbitan), serta nomor halaman. Semua sumber kutipan
yang baru muncul pertama kali harus ditulis secara lengkap, sedangkan untuk
pemunculan berikutnya digunakan singkatan ibid, op. cit, atau loc. cit. Dalam menulis
catatan kaki, baris pertama harus ke dalam sebanyak 7 (tujuh) ketukan.
Ibid adalah singkatan dari ibidem, digunakan apabila sumber kutipan pertama diikuti
dengan kutipan berikutnya dimana sumbernya sama, tanpa diselingi dengan sumber
kutipan lain.
Loc. cit. adalah singkatan dari loco citato, artinya yaitu tempat yang pernah dikutip.
Kutipan berasal dari sumber yang sama dengan sumber yang pernah dikutip
(halamannya sama), tetapi telah diselingi dengan sumber kutipan lain.
Op. cit. adalah singkatan dari opere citato, artinya karya yang telah dikutip (dikutip
terlebih dahulu). Kutipan berasal dari sumber yang sama dengan sumber yang pernah
dikutip (halamannya berbeda), tetapi telah diselingi dengan sumber kutipan lain.

2.8.2 Sistematika Karangan Ilmiah
Sistematika Karya Ilmiah adalah cara penysunan dan penulisan suatu Karya Ilmiah dengan baik dan benar atau bisa disebut juga dengan penulisan dan penyususunan yang sesuai dengan aturan. Cara penulisan makalah sama seperti cara penyusunan tulisan lainnya yaitu:
A.    Bagian Awal
Pada bagian awal makalah terdiri dari beberapa unsur sebagai berikut :
a)      Lembar judul/ Sampul
      Di bagian ini dituliskan judul makalah, maksud makalah, nama penyusun, nama fakultas dan perguruan tinggi, seta tahun ajaran.
b)     Kata pengantar
Kata Pengantar adalah kata-kata penulis yang berisi ucapan syukur dan terimakasih kepada semua pihak yang telah membatu dalam penyusunan karya tulis ilmiah.
c)      Daftar isi
      Bagian ini berisi gambaran garis besar beserta poin-poin penting dari isi makalah yang disusun, dengan demikan pembaca akan lebih mudah memahami isi dari makalah yang disusun.
d)      Daftar lampiran (jika ada)
      Berisi informasi tambahan dari makalah yang kita susun, lampiran  ini tidak harus mutlak ada dalam suatu makalah, hanya di tampilkan jika memang harus ada data yang ditampilkan. Bentuk lampiran yang bisa di tampilkan bisa berupa tabel data ataupun sebuah gambar yang menambah keterangan tertentu pdasebuah makalah.

B.    Bagian Isi
a)      Pendahuluan
Pada bagian ini dikemukakan latar belakang (mengapa topik tersebut perlu ditulis), rumusan masalah, tujuan dan manfaat tulisan anda bagi pembaca. Pada bagian ini di tonjolkan bagian kajian teoritis mengenai beberapa masalah yang melatarbelakangi terjadinya penyusunan makalah tersebut. Namun paparan yang ditampikan tidak bersifat pribadi. Paparan teori tersebut harus berdasar teori yang sudah ada atau sudah diketahui oleh kalangan umum, dan diharapkan apa yang di paparkan akan membawa dan mengatarkan pembaca pada topik yang akan di bahas.

b)     Pembahasan /  Analisis
Bahasan dan analisis adalah murni bahasa dari Anda. Segala bentuk sumber / referensi wajib dicantumkan pada dua bagian makalah, yaitu: bagian yang dikutip di bab Pembahasan, dan bab Daftar Referensi
C.    Bagian Penutup
Bagian ini biasanya berupa saran dan kesimpulan. Dan penulisannya berdasar pada Ejaan Yang Disempurnakan  (EYD).
a)      Simpulan dan Saran
Bagian ini mencakup simpulan, serta saran, dan mengungkapkan secara jelas kepada siapa saran tersebut ditujukan.

b)      Daftar Referensi
Bagian ini memuat sumber referensi untuk penulisan makalah, baik dari buku, majalah, artikel ilmiah, dan website




BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1  Kesimpulan
Karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuanyang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Karya ilmiah dapat juga berarti tulisan yang didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya/ keilmiahannya.
Karangan ilmiah harus merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif). Faktual objektif adalah adanya kesesuaian antara fakta dan objek yang diteliti. Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau empiri.
 Karangan ilmiah bersifat metodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah digunakan metode atau cara-cara tertentu dengan langkah-langkah yang teratur dan terkontrol melalui proses pengidentifikasian masalah dan penentuan strategi.
Dalam pembahasannya, karangan ilmiah menggunakan ragam bahasa ilmiah. Dengan kata lain, ia ditulis dengan menggunakan kode etik penulisan karya ilmiah. Perbedaan-perbedaan inilah yang dijadikan dasar para ahli bahasa dalam melakukan pengklasifikasian.
Ada banyak jenis dari karangan ilmiah, dan jenis yang biasanya digunakan dikalangan mahasiswa adalah makalah dan skripsi. Dalam penulisan karangan ilmiah kita juga perlu memiliki sikap ilmiah yang baik dan benar juga menguasai teknik-teknik penulisan karangan serta mengetahui sistematika pembuatan karangan ilmiah, karna sebagai mahasiswa kita dituntut untuk membuat skripsi sebagai tugas akhir kita.

3.2 Saran

Dalam pembuatan karangan ilmiah yang nantinya kita lakukan sebaiknya kita sebagai mahasiswa mengetahui dan menerapkan teknik penyusunan karangan ilmiah, supaya karanga ilmiah yang nantinya kita buat dapat diterima dan dapat menjadi hasil karangan ilmiah yang baik dan berguna bagi banyak orang, selain itu supaya kita tentunya lebih dapat menghargai hasil karya ilmiah seseorang dan mengetahui apa-apa saja yang menjadi teknik penyusunan karangan ilmiah tersebut.