Rabu, 25 Juni 2014

PERKEMBANGAN FISIK DAN KOGNITIF PADA MIDDLE CHILDHOOD


I.    PERKEMBANGAN FISIK
A.    Berbagai Aspek Perkembangan Fisik
a.      Pertumbuhan
Pertumbuhan dimasa kanak-kanak pertengahan dianggap melambat.  Walaupun perubahan dari hari ke hari tidak begitu nyata, akan tetapi mereka terus tumbuh mencapai perbedaan yang mengejutkan antar usia 6 tahun, yang masih merupakan anak kecil, dan 11 tahun, yang banyak diantara mereka pada saat ini yang berubah menjadi dewasa.
Anak usia sekolah pada saat ini tumbuh sekitar 1-3 inci setiap tahun dan bertambah 3-5 pon atau lebih melipatgandakan berat rata-rata tubuh mereka. Anak perempuan mempertahankan lapisan lemak yang banyak dibandingkan anak laki-laki, kareakteristik yang terus berlanjut sampai usia dewasa. Anak-anak sangat beragam , begitu beragamnya sampai anak usia 7 tahun dengan tinggi rata-rata seusianya dan tidak tumbuh sama sekali selama dua tahun masuk dalam batasan normal tinggi rata-rata usia 9 tahun.
Walaupun sebagian besar anak tumbuh normal, tetapi ada pula yang tidak. Salah satu tipe gangguan pertumbuhan muncul dari kegagalan tubuh untuk memproduksi hormon pertumbuhan yang cukup, atau bahkan  terkadang semua hormon pertumbuhan. Pemberian hormon pertumbuhan sintesis pada kasus tersebut dapat mengakibatkan pertumbuhan tinggi yang cepat, terutama dalam dua tahun pertama. Akan tetapi hormone pertumbuhan sintesis juga digunakan terhadap anak yang jauh lebih pendek dibandingkan anak seusianya dengan tubuh yang memproduksi jumlah hormon normal.
b. Nutrisi
Untuk mendukung kemantapan pertumbuhan dan pengerahan tenaga yang konstan, seorang anak membutuhkan rata-rata 2400 kalori tiap hari - lebih banyak bagi anak yang lebih tua dan lebih sedikit bagi anak-anak yang masih muda.
Para pakar nutrisi merekomendasikan berbagai makanan termasuk banyak sayur, buah dan biji-bijian yang mengandung gizi alami yang tinggi, dan level tinggi karbohidrat kompleks yang terdapat dalam kentang, pasta, roti dan sereal. Untuk menghindari kegemukan dan masalah jantung, seorang anak seharusnya mendapatkan 30 persen total kalorinya dari lemak, dan kurang dari 10 persen dari lemak jenuh. Daging tidak berlemak dan makanan yang mengandung susu harus terus dipertahankan dalam daftar makanan untuk menyediakan protein, besi dan kalsium.
Malnutrisi Hampir setengah 46% anak di Asia Utara, 30% di sub-Sahara Afrika, 8% di Amerika Latin dan Karibia, dan 27% di seluruh dunia dipercaya menderita malnutrisi (UNICEF, 2002). Di AS pada 1988, satu dari lima orang anak tidak mendapatkan makanan yang cukup. . Karena anak dengan asupan yang buruk biasanya hidup dalam kemiskinan danmengalami jenis kemiskinan lingkungan lainnya, efek khusus dari malnutrisi sulit diisolasi. Akan tetapi, semua kemiskinan ini bukan saja mempengaruhi pertumbuhan dan kesejahteraan fisik tetapi juga perkembangan kognitif dan psikososial.
Kegemukan dan citra tubuh. Kegemukan sering kali bersumber dari kecenderungan turunan, diperparah dengan terlalu sedikit bergerak dan terlalu banyak makan, makanan yang salah. Di antara gen yang tampak terkait dengan kegemukan adalah mengaturproduksi protein otak yang disebut leptin, yang tampak membantu mengatur lemak tubuh. Lingkungan juga memiliki pengaruh, karena anak cenderung makan jenis-jenis makanan yang sama dan mengembangkan kebiasaan yang sama dengan orang yang ada di sekelilingnya. Ketidakaktifan mungkin merupakan faktor utama melesatnya kegemukan
            Kelebihan berat badan dapat menjadi masalah serius. Obesitas meningkatkan resiko anak mengalami masalah medis dan psikologis. Anak yang kelebihan berat badan dapat mengalami sakit pinggang, asma. Sebuah studi baru-baru ini juga menemukan bahwa anak yang mengalami obesitas dan kelebihan berat badan normal untuk menjadi korban dan pelaku bullyying. Anak yang menderita kegemukan seringkali menderita ejekan dari teman sebayanya, dan mungkin mengompensasikannya dengan menurutkan kata hati mereka dengan memakan yang enak-enak, membuat masalah fisik dan sosial mereka menjadi bertambah parah, beresiko terkena tekanan darah tinggi, sakit jantung dan diabetes.
            Orangtua harus menemukan cara yang konstruktif dan tidak menyalahkan untuk membantu menurunkan berat badan, dengan mendorong aktivitas fisik dan memberikan berbagai variasi makanan bergizi tinggi, berlemak rendah. Keyakinan akan rupa dirinya menjadi semakin penting menjelang  akhir masa kanak-kanak pertengahan, terutama bagi perempuan, dan mungkin berkembang menjadi gangguan makan yang menjadi semakin umum terdapat pada masa remaja.

c. Perkembangan Motorik
Perkembangan fisik (motorik) merupakan proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak. Setiap gerakan yang dilakukan anak merupakan hasil pola yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh otak. Keterampilan motorik anak-anak tengah menjadi lebih halus dan lebih terkoordinasi dibandingkan dengan ketika masih di masa kanak-kanak awal. Dalam keterampilan motorik kasar yang yang melibatkan aktivitas otot besar, anak laki-laki biasanya mengungguli anak perempuan
Bermain rough and tumble. Sekitar 10 persen permainan anak usia sekolah pada waktu istirahat adalah permainan rough and tumble, permainan bersemangat dengan berguling, menendang, begumul, bergulat dan terkadang kejar-kejaran sering kali diiringi dengan jeritan dan tawa. Permainan jenis ini memuncak pada masa kanak-kanak pertengahan, proposrsinya berkurang sampai 5 persen pada usia 11 tahun, kira-kira sama dengan kanak-kanak awal
Para antropolog berpendapat permainan rough and tumble berevolusi untuk memberikan keterampilan yang dapat digunakaan dalam berkelahi dan berburu. Saat ini pemainan tersebut memiliki fungsi seperti membantu anak untuk merebut dominasi dalam kelompok sebaya dengan mengukur kekuatannya sendiri dan kekuatan anak lain. Anak laki-laki terlibat lebih banyak dalam permainan ini dibandingkan anak perempuan yang disebabkan pada perbedaan hormonal dan sosialisasi.
Kesehatan fisik. Latihan fisik dan kekurangan latihan, berefek kepada fisik dan mental. Latihan tersebut meningkatkan kekuatan dan daya tahan, membantu membangun tulang dan otot yang sehat, membantu tulang dan otot yang sehat, membantu mengontrol berat, mengurangi kecemasan dan stress, dan meningkatkan kepercayaan diri. Gaya hidup duduk terus menerus yang terus berlanjut sempai usia dewasa bisa jadi pemicu kegemukan, yang meningkatkan resiko diabetes, jantung, dan kanker.



B.     Kesehatan dan keselamatan

Perkembangan vaksinasi untuk penyakit utama masa kanak-kanak telah membuat masa kanak-kanak pertengahan sebagai periode yang cukup aman, terutama di Negara-negara berkembang. Seiring dengan meningkatnya pengalaman anak terhadap penyakit, pemahaman mereka terhadap penyebab sakit dan kesehatan juga meningkat, demikian pula dengan cara orang melindungi kesehatan mereka.
 Dari perspektif piaget, pemahaman anak terhadap penyakit dan kesehatan berkaitan erat dengan perkembangan kognitif. Ketika perkembangan tersebut mencapai tingkat kematangan, penjelasan mereka tentang penyakit akan berbeda. Sebelum masa kanak-kanak pertengahan, anak-anak egosentris; mereka cenderung untuk percaya bahwa penyakit secara ajaib dihasilkan oleh tindakan manusia, sering kali tindakan mereka sendiri (“saya anak nakal, karena itu sekarang saya sakit”). Ketika anak-anak mendekati masa remaja, mereka melihat ada berbagai sebab penyakit, kontak dengan kuman tidak harus menjadi sakit, dan orang-orang dapat melakukan banyak hal untuk menjaga diri mereka tetap sehat.
a.  Masalah Medis
·      Kondisi medis akut merupakan dustu kondisi yang bersifat sporadic dan berjagka pendek, seperti infeksi, alergi, dan kutil yang merupakan hal yang umum. Enam atau tujuh kali menderita sakit demam, flu, stsu virus merupakan hal yang biasa pada usia ini karena kuman yang beterbangan di antara anak-anak disekolah dan pada saat bermain. Penyakit pernafasan atas, sakit tengggorokan, dan infeksi telinga berkurang sejalan dengan meningkatnya usia; akan tetapi jerawat, sakit kepala, dan gangguan emotional transitoris menigkat seiiring dengan mendekatnya masa pubertas.
·      Kondisi medis kronis adalah penyakit atau kerusakan yang berlangsung selama paling kurang tiga bulan. Anak dibawah usia 18 tahun memiliki kondisi medis kronis pada kondisi fisik, perkembangan, perilaku, dan/atau emosional yang memerlukan perawatan kesehatan khusus. Anak dengan kebutuhan kesehatan khusus cenderung sangat tabah. Sebagian besar tidak menunjukkan masalah kesehatan mental, prilaku,dan sekolah. Walaupun demikian, beberapa kondisi tertentu seperti masalah penglihatan dan pendengaran, asma, dan AIDS dapat berdampak besar dalam kehidupan sehari-hari.
Ø  Masalah penglihatan dan pendengaran
Pada usia 6 tahun, penglihatan biasanya menjadi lebih tajam; dank arena kedua mata berkoordinasi dengan baik; mereka dapat berfokus dengan baik. Hal ini menjadi penting sejak kehilangan pendengaran ringan saja dapat memengaruhi komunikasi, prilaku dan hubungan social.
Ø  Asma
Asma merupakan penyakit pernapasan kro is yang ditandai dengan awrangan tiba-tiba batuk, napas berbunyi, dan kesulitan dalam bernapas.penyebab dari ledakan asma masih belum diketahui, akan tetapi beberapa pakar menunjuk kepada semakin rapatnya rumah yang memiliki sirkulasi udara yang lebih sedikit serta keterbukaan yang lebih dini terhadap racun dan alergi lingkungan. Anak, khususnya laki-laki, miskin dan dari kelompok minoritas, paling beresiko mendapatkannya. Hal tersebut mungkin dikarenakan tidak adanya keleluasaan dalam akses kepada layanan kesehatan, sebagaimana yang didapat oleh anak berorangtua tunggal.
Ø  HIV dan AIDS
Anak yang terinfesi human immunodeficiency virus (HIV) memiliki resiko terkena AIDS. Mereka yang bersimpton AIDS dapat terkena disfungsi system saraf pusat yang dapat memengaruhi kemampuan mereka untuk belajar, akan tetapi terapi antiretroviral dapat meningkatkan fungsi tersebut. Kombinasi terapi termasuk protease inhibitor te;ah berhasil mengurangi kematian di kalangan anak dan remaja yang terinfeksi HIV.

b.       Luka akibat kecelakaan
Kecelakaan sering meningkat pada usia antara 5 dan 14 tahun, seiring dengan semakin terlibatnya anak dalam aktivitas fisik dan berkurangnya pengawasan. Sabagaimana dalam masa kanak-kanak awal, luka akibat kecelakaan merupakan factor utama kematian.



II.    PERKEMBANGAN KOGNITIF
A.     Piaget : Anak Operasional Konkret
Mengacu pada Piaget, pada usia 7 tahun seorang anak memasuki tahap operasional konkret ketika mereka dapat menggunakan operasi mental seperti penalaran untuk memecahkan masalah konkret. Anak dapat berfikir lebih logis karena pada saat ini mereka dapat mengambil aspek dari situasi tersebut kedalam pertimbangan. Walaupun demikin mereka masi dibatasi untuk berfikir tentang situasi yang sebenarnya  pada saat itu.
a.      KEMAJUAN KOGNITIF
Anak yang berada pada tahap operasional dapat melakukan banyak tugas dalam level tinggi dari pada yang dapat mereka lakukan pada tahap praoperasional. Mereka memiliki pemahaman yang lebih baik tentang konsep spasial, kausalitas, kategorisasi, penalaran konduktif atau induktif dan konservasi.
·         Ruang dan kausalitas
Anak yang berada pada tahap operasi konkrit dapat memahami hubungan spasial dengan lebih baik, mereka memiliki ide yang lebih jernih tentang seberapa jauh satu tempat ketempat yang lain dan berapa waktu yang dibutuhkan untuk mencapainya.
Pengalaman juga ikut berpengaruh pada perkembangan ini. Penilaian sebab akibat juga mengalami peningkatan pada masa kanak-kanak pertengahan. Ketika anak usia 5 tahun diminta untuk memprediksikan bagaimana kinerja pengungkit dan penyeimbang terhadap sejumlah barang dengan berbagai berat yang ditempatkan pada jarak yang berbeda dari pusat.  

·         Kategoris
Kemampuan mengkategorisasikan membantu anak untuk berfikir secara logis. Kategorisasi mencakup kemampuan rumit seperti pengurutan, transitive inference dan class inclusion. Anak menunjukkan pemahaman mereka tentang pengurutan (seration) ketika mereka dapat mengukur objek dalam rangkaian yang sesuai dengan satu atau beberapa dimensi seperti berat atau warna.
Transitive inference adalah kemapuan untuk mengenali hubungan antar dua ojek dengan mengetahui hubungan antara masing-masing objek tersebut dan objek ketiga. Contohnya adalah ketika seorang anak diperlihatkan tongkat yang berwarna merah, putih dan hitam, tongkat merah lebih panjang daripada tongkat putih dan tongkat putih lebih panjang dari pada tongkat hitam, maka tanpa membandingkan secara fisik anak tersebut mengetauin bahwa tongkat merah lebih panjang daripada tongkat hitam.
Class inclusion adalah kemampuan melihat hubungan antara sebuah kesatuan dan bagian-bagiannya. Contohnya ketika seorang anak yang praoprasional diperlihatkan sepuluh ikan bunga, 3 diantaranya buka anyelir dan 7 diantaranya bunga mawar. Kemudian ditanyai bunga manakah yang lebih banyak, maka anak tersebut menjawab bunga mawar anak tersebut membandingkan bunga anyelir dan mawar bukan dengan seluruh bunga yang terikat.
            Penalaran induktif dan deduktifMenurut Piaget seorang anak yang berada pada level operasi konkret menggunakan penalaran indukrif mulai dengan observasi terhadap beberapa anggota kelas manusia, binatang dan objek atau peristiwa kemudian menarik kesimpulan tentang kelas tersebut. Penalaran deduktif menutur Piaget muncul pada usia remaja dimulai dengan pernyataan umum tentang sebuah kelas dan mengaplikasikannya terhadap seluruh anggota kelas.
            Konservasi, dalam memecahkan berbagai masalah konservasi anak-anak yang berada dalam tahap operasi konkret dapat mencari jawaban dalam kepala mereka (mereka tidak perlu mengukur atau menimbang objek tersebut.
a.      PENALARAN MORAL
            Piaget berpendapat bahwa penalaran moral berkembang dalam tiga tahap. Anak bergerak secara gradual dari saru tahap ketahap lainnya, pada level usia yang beragam.Tahap pertama (kira-kira usia 2-7 merujuk pada tahap operasi konkret), ding otoritas dan ttdasarkan kepada kepatuhan terhadap otorites. Anak kecil berfikir secara kaku tentang konsep moral. Karena mereka egosentris mereka tidak dapat membayangkan lebih dari satu cara untuk melihat isu moral. Mereka percaya bahwa aturan berasal dari orang dewasa yang memeng otoritas dan tidak bias dicegah atau diubah.
Tahap kedua usia (7atau 8 atau 10 atau 11 tahun berkaitan dengan tahap operasi konkret) ditandai dengan meningkatnya fleksibilitas dan beberapa tingkat otonomi tergantung kepada rasa hormat dan kerja sama matual. Ketika anak berinteraksi dengan banyak orang dan bersentuhan dengan berbagai sudut pandang, mereka mulai membuat ide bahwa hanya ada standar tunggal dan absolut dari benar atau salah dan mulai mengembangkan perasaan akan keadilan yang didasarkan kepada keadilan atau perlakuan yang sama untuk semua. Karena mereka dapat mempertimbangkan lebih dari satu aspek dari sebuah situasi, mereka dapat membuat penilaian moral yang lebih subtil lagi.
                        Sekitar usia 11 dan 12, ketika anak mampu melakuka penalaran formal, tahap ketiga penalaran moral muncul. Ketika seorang anak ayang berada pada thap ini akan menyatakan bahwa anak usia 2 tahun yang menumpahkan tinta harus diperlakukan dengan tuntutan standar moral yang lebih longgar dibandingkan anak 10 tahun yang melakukan hal yang sama.





Kamis, 12 Juni 2014

Psikologi Pendidikan

Pedagogi dan Andragogi
Pedagogi adalah ilmu atau seni dalam menjadi seorang guru. Istilah ini merujuk pada strategi pembelajaran atau gaya pembelajaran.
Pedagogi juga kadang-kadang merujuk pada penggunaan yang tepat dari strategi mengajar. Sehubungan dengan strategi mengajar itu, filosofi mengajar diterapkan dan dipengaruhi oleh latar belakang pengetahuan dan pengalamannya, situasi pribadi, lingkungan, serta tujuan pembelajaran yang dirumuskan oleh peserta didik dan guru. Salah satu contohnya adalah aliran pemikiran Sokrates.
Berbicara tentang pengajaran disekolah mengingatkan saya pada proses pembelajaran yang pasif dan kurang menyenangkan, ketika saya SMP, sekolah menjadi hal yang rutinitas saja, karna pembelajaran kurang menarik, guru menjadi pemegang (kunci utama) dalam proses pembelajaran. Guru memberikan materi, siswa ditanya sudah mengerti atau belum, dan jika murid sudah mengerti guru melanjutkan dengan memberikan tugas. Tata tertib sekolah terkadang hanya memberi tekanan bukan kearah yang baik sehingga siswa merasa belajar itu adalah suatu paksaan bukan kemauan sendiri. Waktu untuk belajar sudah ditetapkan, jadi terkadang ketika guru dan murid sedang dalam diskusi dan waktu istirahat datang, terkadang guru menghentikan segala proses pengejaran bukan menambahkan sedikit waktu untuk berdiskusi atau menjawab pertanyaan dari siswa. Begitu juga dengan waktu masuk sekolah dan waktu pulang sekolah, ketika murid terlambat datang kesekolah dan terjadi berulang  kali, guru akan memulangkan siswa. Ini membuat siswa jadi tertinggal dalam pembelajaran.
Nah, dalam menyelesaikan tugas, siswa dipaksa bukan atas kesadarannya sendiri akan tugasnya sebagai siswa. Guru memberikan punishment bagi siswa-siswa yang tidak mengerjakan pekerjaan dirumah. Dan bagi siswa-siswa yang mengerjakan tugas tidak diberi punishment tapi diberi nilai bagus. Begitu juga dengan siswa-siswa yang berprestasi dan siswa-siswa yang nakal. Guru sangat peduli dengan siswa yang bolos, malas belajar, tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya, dan kenakalan-kenakalan yang lain. Guru akan menegur, dan jika murid tetap tidak bisa merubah sikapnya, guru akan memanggil orangtua agar dapat berkonsultasi memecahkan permasalahan murid yang nakal. Dan untuk siswa yang berprestasi, sekolah memberikan reward seperti buku 2 lusin, piagam, uang saku, piala, buku bacaan dan lain-lain.
Pembelajaran berpusat pada mata pelajaran yang sudah ditentukan sebelumnya, jadi dalam proses pembelajaran materi yang diajarkan hari ini menjadi topic utama dan ide hanya berasal dari guru sebagai pusat inti pengajar dikelas, dan materi berfokus pada mata pelajaran saja. Karna siswa dianggap kurang berpengalaman sehingga siswa menggap bahwa apa yang dikatakan  oleh guru adalah hal yang paling baik dan pastinya sudah benar.
Sekolah mewajibkan kepada semua murid agar ambil bagian dalam kegiatan ekstrakurikuler, karna sekolah merasa bahwa setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda, dan hal ini juga agar hubungan (sosialisasi) siswa meningkat. Dan dari kegiatan ekstrakurikuler dapat menempa siswa menjadi pribadi yang punya jiwa pemimpin, teamwork yang baik, dan menempa siswa untuk dapat melihat jauh keluar.
Guru memiliki tujuan untuk membuat siswa dapat lulus di tingkat SMP. Hal ini yang terkadang membuat guru menekan dan memaksa siswa untuk lebih belajar giat, bukan agar siswa mendapat ilmu agar bisa dipakai kelak. Tapi guru juga memahami murid-murid yang ketinggalan dalam belajar, sehingga guru memfasilitasi murid untuk melakukan Les sore agar membantu murid lebih paham untuk materi yang telah dipelajari   sebelumnya dan membantu murid mencari soluso terbaik dalam  pembelajaran. Pada intinya guru sangat peduli dengan murid.

            Andragogi adalah proses untuk melibatkan peserta didik dewasa ke dalam suatu struktur pengalaman belajar.Ketika masuk masa perkuliahan semuanya berbeda dengan sekolah. Kuliah menuntut mahasiswa lebih aktif, dalam hal mengikuti perkuliahan, diskusi, mencari materi, mengerjakan tugas, dan kegiatan-kegiatan yang lain. Mahasiswa lebih bertanggung jawab akan kehidupannya sendiri, jadi bagi mahasiswa yang malas-malasan tidak akan ada guru yang menegur oleh karna itu lebih pada tanggung jawab sendiri. Dalam proses pembelajaran mahasiswa lebih banyak diberi ruang untuk memberikan pendapat atau ide-ide yang mereka miliki, mahasiswa juga dianggap sudah berpengalaman sehingga materi terkadang bukan hanya berasaal dari dosen saja. Waktu dalam perkuliahan juga sebenarnya diaatur waktu masuk dan waktu pulang tapi berbeda dengan siswa pada tingkat sekolah yang kalau terlambattidak bisa ikut belajar seharian kalau pada perkuliahan terlambat kuliah PUM masih dapat ikut dalam kuliah Pendidikan yang akan diaadakan dalam hari yang sama. Dalam pembelajaran nah, ketika mahasiswa banyak bertanya, waktu bukan menjadi halangan untuk didiskusikannya pertanyaan tapi menjadi hal yang menarik sehingga dosen terkadang membubarkan kuliah lebih lama dari biasanya. Kuliah menjadi hal yang sangat menarik dalam menempa kita sebagai pribadi yang lebih bertanggung jawab, mandiri dan peduli.

PSIKOLOGI SOSIAL

STUDY KASUS
Ketika saya masih menjadi seorang siswa di SMA negeri 1 Kabanjahe, saya memiliki kelompok atau yang lebih familiar disebut Geng. Kami beranggotakan 11 orang, dimana setiap anggotanya adalah perempuan. Kami menamakan kelompok kami CHUMS. Kami bukan hanya bermain bersama tapi kami juga  sering belajar bersama karna kami berada pada tingkatan kelas yang sama, suatu hari kami pernah mengerjakan tugas kelompok. Teman-teman memacu saya untuk melakukan yang terbaik dikelompok, karna mereka juga bekerja dengan baik, sehingga tugas yang tadinya susah menjadi gampang untuk dikerjakan. Kebetulan teman-teman saya adalah orang-orang yang cukup berprestasi dan punya kemauan belajar yang baik, ini membuat saya menjadi seseorang yang juga rajin belajar, agar saya bisa sama dengan teman-teman saya. Nah, sesekali kami juga sering melakukan hal gila-gilaan bersama seperti melakunkan flashmob dan membuat video harlem shake.mereka adalah teman-teman yang sangat menyenangkan.
Teory
KELOMPOK DAN PENGARUH SOSIAL:
1.      Deindividuation .Dalam beberapa situasi, bila kita bergabung dalam suatu kelompok, kita dapat merasa aninimous dan tidak teridentifikasi.
2.      Uninvolved by Standers , jika seseorang berada dalam kerumunan orang banyak, kita cenderung tidak akan menolong.
3.      Working and Solving Problems in Groups Kita sebagai manusia sering bekerja sama dalam sebuah kelompok. Misalnya belajar bersama, rapat untuk mendiskusikan masalah di dalam perkuliahan ataupun bisnis kita.
a.       social facilitation .Di beberapa situasi, menjadi anggota sebuah kelompok dapat meningkatkan performa dari individu anggota kelompok tersebut.
b.      social loafing. Terkadang menjadi anggota sebuah kelompok justru mengurangi kinerja individu tersebut
4.      Conformity, Social Roles, and Obedience
Ø  Konformitas adalah menuruti karena adanya tekanan kelompok untuk berperilaku seperti yang semua orang lakukan meskipun tidak ada permintaan langsung untuk melakukannya.
Ø  Peran Sosial dan Norma Sosial
Peran sosial     : budaya ditentukanoleh  pedoman yang memberitahu orang apa perilaku yang diharapkan dari mereka.
Norma sosial   : pedoman yang diberikan oleh setiap budaya untuk menilai perilaku yang dapat diterima dan tidak dapat diterima.
5.       Kepatuhan (Obedience) adalah melakukan sesuai dengan yang disuruh oleh orang yang memiliki kekuasaan
6.      Sisi Positif dari Kelompok Ada beberapa hal dimana seseorang tidak dapat menyelesaikannya jika sendirian. Walaupun benar bahwa jika sendirian individu akan menarik sampan lebih kuat dibandingkan bila dalam kelompok, namun kelompok yang terdiri dari empat orang akan dapat menarik sampan ke tepi dibandingkan bila menarik sendirian. Kelompok juga dapat memberikan dukungan emosional dan kenyamanan kepada kita.
Analisis Kasus dan Teory

Ketika bekerja dalam kelompok (berdiskusi) bersama teman-teman saya ingin melakukan performa terbaik saya didalam kelompok saya ini sering disebut sebagai social facilitation. Nah, teman-teman yang berprestasi dan rajin belajar membuat saya secara tidak langsung dan tanpa tekanan dalam kelompok membuat saya menjadi siswa yang rajin belajar agar sama dengan teman-teman dalam kelompok saya, hal ini sering disebut sebagai konformitas. Memecahkan masalah secara bersama (berdiskusi) memudahkan suatu pekerjaan dalam kelompok saya diamana tugas lebih gampang dan cepat terselesaikan ini adalah the positif side of group. Nah, selain belajar kami juga membuat kegilaan-kegilaan yang ada seperti melakukan flashmob dan membuat video harlem shake, ketika kami melakukan kegilaan kami menjadi orang yang berbeda karna kami lebih berani tetapi ini karna kami melakukannya secara bersama, sehingga kami merasa kami tidak dapat teridentifikasi ini sering disebut sebagai diindividuation.


PUM II

PSIKOLOGI SOSIAL
I. Defenisi Psikologi Sosial
Psikologi sosial, cabang dari ilmu Psikologi yang mempelajari bagaimana individu berinteraksi dengan orang lain. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari konteks sosialnya, dimana inidividu itu hidup. Insting kita memang secara natural untuk membentuk hubungan dengan orang lain. Psikologi sosial juga mempelajari tentang ketertarikan, needs (kebutuhan), dan pengaruh-pengaruhnya.

II. Kelompok dan Pengaruh Sosial (Group and Social Influence)
1.      Lynch Mobs
Pergerakan dari kerumunan massa yang terdiri dari sejumlah besar orang di dalamnya yang cenderung negatif. Dapat dicontohkan dari berbagai aksi di Indonesia.Jika seseorang berada dalam kelompok, memiliki kecenderungan lebih besar untuk melakukan tindakan-tindakan yang mungkin tidak dilakukan orang tersebut dalam kondisi sendiri.Dalam beberapa situasi, bila kita bergabung dalam suatu kelompok, kita dapat merasa aninimous dan tidak teridentifikasi. Perasaan ini yang dikenal dengan istilah deindividuation (Zimbardo, 1969). Jadi dapat dikatakan, diindividuation adalah keadaan dimana seseorang akan rendah kesadarannya, mengenai apa yang mereka lakukan dan apa yang orang lain pikirkan tentang mereka saat mereka dalam kelompok. Dan ini meningkatkan kemungkinan mereka melakukan kegiatan yang tidak mungkin mereka lakukan.Saat seseorang berada dalam deindividuation,seseorang lebih agresif dari biasanya.
2.      Uninvolved by Standers
Kasus Kitty Genovese, suatu kejadian dimana kita tidak melakukan sesuatu ketika kita melihat orang lain tidak melakukan sesuatu. Ada sebuah penelitian yang mengatakan, jika seseorang berada dalam kerumunan orang banyak, kita cenderung tidak akan menolong. Mengapa? Menurut Darley and Latané, kehadiran orang lain mempengaruhi persepsi kita tentang perlukah orang lain tersebut ditolong dan tanggung jawab kita untuk menolong. Diffusion of responsibility, konsep dimana, apabila kita berada dalam suatu kelompok berefek pada menurunnya tanggung jawab personal kita untuk berperilaku sesuai.
3.      Working and Solving Problems in Groups
Kita sebagai manusia sering bekerja sama dalam sebuah kelompok. Misalnya belajar bersama, rapat untuk mendiskusikan masalah di dalam perkuliahan ataupun bisnis kita.Apakah ini hal yang baik?Apakah bekerja dalam kelompok menunjukkan sisi yang terbaik dari kita?Terkadang ya dan terkadang tidak.Di beberapa situasi, menjadi anggota sebuah kelompok dapat meningkatkan performa dari individu anggota kelompok tersebut.Hal ini disebut dengan social facilitation (Levine, Resnick, & Higgins, 1993).Akan tetapi, ada juga kemungkinan negatif saat seorang individu bergabung dalam sebuah kelompok kerja.Terkadang menjadi anggota sebuah kelompok justru mengurangi kinerja individu tersebut.Fenomena inilah yang disebut dengan social loafing.
Ada dua keadaan yang menjadi variabel penentu yang mengakibatkan terjadinya social loafing yaitu (a) banyaknya anggota kelompok, dan (b) jenis tugas.Semakin besar sebuah kelompok, semakin berkurang juga kontribusi individual masing-masing anggota kelompok (Sorkin, Hays, & West, 2001). Hal ini dikarenakan oleh 3 hal yakni (1) individu percaya bahwa anggota kelompok lain dapat berkontribusi lebih baik daripada dirinya, (2) karena anggota kelompok lain tidak memberikan respon positif terhadap kontribusi yang diberikan individu tersebut, atau (3) karena individu merasa bahwa ia tidak begitu dibutuhkan dalam kelompok tersebut.
Jenis tugas merupakan faktor penting dalam menunjukkan performa individu di dalam sebuah kelompok. Ketika mengerjakan suatu jenis pekerjaan di dalam kelompok, seorang individu bisa saja merasa terganggu dengan kehadiran individu yang lain. Tetapi bisa juga sebaliknya, kehadiran individu lain justru memacu kinerja individu tersebut menjadi lebih baik. Hal ini dibahas di dalam teori arousal yang sudah dipelajari sebelumnya. Menurut teori tersebut, suatu pekerjaan yang mudah bagi individu akan semakin mudah dan cepat terselesaikan apabila ada individu lain yang menyaksikannya. Namun sebaliknya, pekerjaan yang sulit bagi individu akan semakin sulit dan lama terselesaikan apabila ada individu lain yang menyaksikannya. Misalnya, musisi professional yang sudah sangat terlatih biasanya bermain lebih baik saat pertunjukannya disaksikan oleh banyak orang. Tetapi bagi musisi amatir yang belum terlatih, kehadiran orang lain justru akan membuat penampilannya terganggu.

Pemecahan Masalah dalam Kelompok (Group Problem Solving)
Pada umumnya, orang-orang lebih suka memecahkan masalah yang kompleks secara kelompok daripada memecahkannya sendiri (Laughlin & others, 2003; Sorkin & others, 2001). Tetapi ada saat dimana proses pengambilan keputusan tersebut salah dan berakibat fatal walaupun individu-individu dalam kelompok tersebut dianggap kompeten. Hal inilah yang disebut dengan groupthink (Irvink Jannis, 1982). Ada 3 faktor yang dapat menyebabkan groupthink :
(1)   Proses polarisasi
Polarisasi merupakan suatu keadaan dimana anggota kelompok menyatakan pendapatnya secara lebih ekstrim tanpa memperhitungkan keadaan masalah yang sesungguhnya.
(2)   Sifat kohesif anggota kelompok
Cohesiveness merupakan suatu keadaan dimana anggota kelompok saling terkait secara erat, cenderung berpendapat sama, dan enggan menerima pendapat yang dianggap berbeda dari pendapat umum. Oleh karena itu, pendapat dan keadaan yang bertentangan seringkali tidak dimunculkan sehingga mengarah pada keputusan yang salah.Untuk menghindari hal ini, paling tidak harus ada seorang anggota yang diminta untuk memerankan peranan devil’s advocate, untuk selalu menyatakan pendapat-pendapat yang berbeda dengan pendapat anggota kelompok pada umumnya.
(3)   Jumlah individu dalam kelompok
Jumlah anggota kelompok sangat berpengaruh terhadap proses interaksi dalam kelompok. Dalam kelompok kecil, interaksinya bersifat dialog interaktif karena semua dapat saling bertukar pikiran secara langsung. Sedangkan dalam kelompok, besar, akan sulit terjadi dialog interaktif. Justru yang terjadi adalah serial monologue, dimana para anggota secara bergantian memberikan semacam pidato, bukan lagi interaksi dua arah.Sehingga seringkali, pendapat minoritas tidak sempat dimunculkan.

4. Conformity, Social Roles, and Obedience
     1. Conformity
Ketika kita menjadi anggota dari sebuah kelompok, kita cenderung untuk berperilaku seperti orang lain dalam kelompok, kita cenderung untuk menyesuaikan diri. Konformitas adalah menuruti karena adanya tekanan kelompok untuk berperilaku seperti yang semua orang lakukan meskipun tidak ada permintaan langsung untuk melakukannya. Orang – orang mungkin menyesuaikan diri karena dua alasan, yaitu untuk memperoleh hadiah dan menghindari hukuman atau untuk memperoleh informasi.
Kita dapat membuat pemikiran sendiri secara pribadi bahkan dalam tekanan orang lain, tetapi kita sering ikut serta dengan kebanyakan orang dalam hal tingkah laku yang tampak. Ketika respon yang seharusnya dalam sebuah situasi tidak jelas, kita melihat kepada orang lain untuk mendapatkan informasi dan setelah itu kita tidak hanya mengikuti pendapat mereka tetapi juga mengubah pendapat kita sendiri untuk menyesuaikan diri. Beberapa faktor yang meningkatkan kemungkinan konformitas terhadap kelompok yaitu:
a.       Ukuran kelompok
Lebih banyak orang dalam kelompok, lebih mungkin terjadi konformitas. Namun jika kelompok terlalu besar, maka konformitas akan hilang.
b.      Kesepakatan kelompok
Konformitas semakin tinggi ketika kita berhadapan pada sebuah kelompok yang semuanya mempunyai pandangan yang sama mengenai sebuah topik. Namun konformitas dikurangi ketika salah seorang dalam kelompok tidak merasakan hal yang sama (Nail, MacDonald, & Levy, 2000).
c.       Budaya dan konformitas
Percobaan Solomon Asch menunjukkan bahwa konformitas terjadi dalam semua budaya, namun orang – orang yang berasal dari budaya individual yang menekankan perhatian pada kesejahteraan individu kurang melakukan konformitas dibandingkan dengan orang – orang dari budaya kolektif yang menekankan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
d.      Gender dan konformitas
Menurut stereotype tradisional, penelitian yang dilakukan sebelum tahun 1950-an laki – laki lebih bebas dan kurang menyesuaikan diri dibandingkan dengan wanita. Namun penelitian baru – baru ini menunjukkan tidak ada lagi masalah perbedaan gender dalam hal konformitas (Eagly, 1978; Eagly & Johnson, 1990).

2.  Peran Sosial dan Norma Sosial
Ø  Peran sosial    : budaya ditentukanoleh  pedoman yang memberitahu orang apa perilaku yang diharapkan dari mereka.
Ø  Norma sosial  : pedoman yang diberikan oleh setiap budaya untuk menilai perilaku yang dapat diterima dan tidak dapat diterima.

Ketika individu bekerja bersama dalam kelompok, usaha dari setiap individu harus dikoordinasikan dengan yang lainnya untuk menghindari kekacauan. Oleh karena itu, setiap budaya telah mengembangkan peran sosial dan norma sosial untuk memberikan pedoman sebagaimana yang diharapkan dari kita. Setiap peran sosial memberikan pengharapan yang berbeda untuk sikap yang tepat. Peran sosial mempunyai pengaruh yang besar terhadap tingkah laku individu. Ketika kita ditempatkan pada peran yang baru, perilaku kita juga berubah untuk menyesuaikan dengan peran kita.
Untuk menyesuaikan diri dengan peran sosial kita, maka kita juga berperilaku sesuai dengan peraturan yang diucapkan maupun yang tidak diucapkan, yang dikenal sebagai norma sosial. Norma sosial dari budaya kita menjelaskan bagaimana seharusnya kita berperilaku dalam berbagai situasi.
3. Kepatuhan (Obedience)
Kepatuhan adalah melakukan sesuai dengan yang disuruh oleh orang yang memiliki kekuasaan. Stanley Milgram melakukan sebuah eksperimen untuk menguji tingkat ketaatan seseorang kepada otoritas yang berlaku pada suatu situasi (Milgram, 1963). Milgram mencari tentang seberapa jauh seseorang akan menuruti perintah dari suatu bentuk otoritas yang berada diatasnya pada siatuasi tertentu, jika perintah tersebut adalah perintah yang akan memberikan dampak menyakitkan kepada orang lain.
Banyak yang bertanya-tanya setelah terjadinya perang dunia kedua yang mengerikan, mengapa seseorang mampu untuk setuju saat diminta atau diperintahkan untuk berbuat kejam terhadap orang lain. Bukan hanya pada tentara saja, namun juga mengapa orang biasa yang dipaksa melakukan tindakan kejam dan mengerikan akan dapat dengan tega melakukannya, hal inilah yang membuat Milgram mengadakan penelitian ini.
Dalam penelitian ini yang ia lakukan adalah mencari tahu tentang perilaku manusia ketika diminta untuk memberikan kejutan listrik dalam beberapa kategori tegangan kepada manusia lainnya saat dalam eksperimen. Perilaku yang dimaksud dalam eksperimen ini adalah sejauh mana orang yang dijadikan subjek tersebut akan mematuhi perintah dari situasi dan mengabaikan keraguan tentang apa yang sedang mereka lakukan beserta dampaknya.
Situasi eksperimen yang diciptakan Milgram terlihat sangat mudah pada awalnya, dimana peserta diberitahu bahwa mereka terlibat dalam suatu bentuk percobaan belajar, para peserta diminta untuk menjadi operator alat kejut yang telah disediakan dan mereka akan diberikan arahan serta ditekankan bahwa mereka harus melakukannya sampai dengan akhir percobaan. Dikatakan kepada peserta bahwa mereka akan berada diantara guru dan pelajar, yang mana keduanya adalah aktor tanpa diketahui peserta karena mereka hanya mengetahui bahwa diri mereka hanya membantu dan bukan sebagai objek penelitian itu sendiri. Peserta yakin bahwa objek penelitian ini adalah ada pada pelajar dan bukan pada mereka. Para peserta duduk di depan mesin dengan banyak tombol dimana pada mesin tersebut terdapat label dari tegangan terendah sampai yang tertinggi, dikatakan bahwa mesin itu bernama Shock Machine atau mesin kejut, pada saklar ketiga yang mereka gunakan terdapat label “Bahaya: Tegangan Tinggi” dan dua saklar terakhir berlabelkan “XXX”. Masing-masing memiliki daya listrik yang semakin besar mulai dari 15 volt hingga 450 volt.
Selama percobaan, setiap kali si pelajar membuat kesalahan peserta diperintahkan untuk menambahkan tegangan sengatan listrik yang diberikan. Tentu saja si pelajar harus terus melakukan kesalahan sehingga operator yang malang tersebut harus tetap memberikan sengatan listrik yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi, lalu si pelajar akan menjerit kesakitan karena disetrum dan sampai akhirnya si pelajar diam tak bergerak. sang operator yang malang sebenarnya tidak memberikan sengatan listrik kepada si pelajar, si pelajar sudah berlatih untuk berakting sebelum percobaan berlangsung agar mereka dapat menirukan kondisi seseorang yang benar-benar tersengat listrik secara realistis. Si pelajar dengan sandiwaranya harus dapat meyakinkan sang operator kalau mereka benar-benar kesakitan karena tersengat listrik sehingga sang operator berasumsi bahwa kesakitan tersebut berasal dari mesin yang mereka kendalikan.
Saat Milgram mensurvey, dia memprediksikan bahwa tidak lebih dari 5% peserta yang akan tega memberikan tingkat setruman tertinggi. Ternyata hasil yang ditunjukkan cukup mencengangkan, bahwa sebanyak 65% peserta memutar saklar ke arah kanan sampai akhir, mereka diberikan segala bentuk stimulus seperti dengan si pelajar berteriak kesakitan, memohon untuk dihentikan dan sampai akhirnya jatuh terdiam.
Eksperimen ini tidak menggunakan mereka yang tergolong sadis dan terlibat dalam kejahatan pembunuhan atau penyiksaan sebelumnya, ini adalah orang biasa seperti Anda.

Sisi Positif dari Kelompok

Ada beberapa hal dimana seseorang tidak bisa menyelesaikannya jika bekerja sendiri.Walaupun benar bahwa jika sendirian individu akan menarik sampan lebih kuat dibandingkan bila dalam kelompok, namun kelompok yang terdiri dari empat orang akan bisa menarik sampan ke tepi dibandingkan bila menarik sendirian. Selain itu, kelompok juga dapat memberikan dukungan emosional dan kenyamanan kepada kita.

Minggu, 20 April 2014

tugas observasi



&KELOMPOK 5&
Ketua : Hotma Indra Hakim (13-013)
Anggota : Juli Theresia (09-072)
Rifqy Tiara Balqish (13-029)
Dewi Sitepu (13-097)
Ester sihombing ( 13-109)
TUGAS OBSERVASI

¢  Nama Sekolah             : SMP DHARMA PANCASILA
¢  Alamat Sekolah           :  Jln. T. Dr. Mansyur No.71
¢  Kepala Sekolah           : Suwito, S.Pd.M.Hum.
¢  Uang Sekolah              :  Rp. 225.000
¢  Kelas                          : 8(delapan )E
¢  Mata Pelajaran            Bahasa Indonesia (alur)
¢  Jumlah Siswa               : 32 0rang
¢   Kegiatan                     : observasi

Setting Ruang Kelas


·         Kelas terdiri dari 17 meja dengan dua pasang kursi setiap4 buah  lampu yang dipasang dengan teratur, 1 kipas angin yang diletakkan ditengah, 1 buah jam dinding yang dipasang didinding depan bagian kanan, dan 1 kalender.
·         Terdapat satu whiteboard, penghapus, spidol, meja-kursi guru sebagai penunjang proses belajar di kelas.
·           Ada juga beberapa hiasan dinding seperti peta Indonesia, gambar biologi (tenggorokan dan Jantung), gambar Pemandangan, kata-kata khiasan, beserta bunga plastic hias yang dipajang disetiap dinding secara teratur.

Setting  Lokasi Sekolah




·         Jumlah kelas yang ada adalah 15 kelas. Dimana setiap tingkatan kelas terdiri dari      ruang A-E. pembagian ini bukan berdasarkan tingkat kecerdasan setiap siswa.
·         Lapangan terletak ditengah dimana menjadi tempat seluruh siswa beraktifitas diluar kelas.
·         Ada laboratorium diantaranya adalah  Lab. Komputer, Lab. Bahasa, dan Lab. IPA. Serta perpustakaan yang menunjang  proses pembelajaran, dan 2 kantin .
·         Ada juga ruang guru tempat semua guru bertemu dan beristirahat, juga terdapat ruang kepala sekolah.
Observasi Guru dan Murid:
·         Sorot Mata
1.      Guru, Memperhatikan seluruh murid ketika sedang  memberikan materi pembelajaran.
2.       Murid , Seluruh murid nampak memperhatikanguru, Namun kelihatan ada yang serius ada juga
yang tidak.
·         Body Languange:
Guru : berdiri di depan kelas saat mengajar, terkadang guru juga menuliskan kata-kata yang susah dimengerti di whitboard. Sesekali guru tersenyum dan tertawa pada murid memperlihatkan betapa mereka sangat akrab.
Murid : beberapa dari murid memperhatikan guru dengan baik, tetapi ada juga yang memperhatikan guru sambil bermain dengan teman sebangku serta tiduran.

Dinamika Pembelajaran
       Adanya interaksi yang baik antara guru dengan murid.
       Guru berbicara dengan baik dan jelas, mengajak murid untuk memberikan pendapat mereka mengenai contoh alur, dan juga memberikan pertanyaan, serta memberikan  kesempatan bagi murid untuk bertanya.
       Rata-rata murid tergolong sangat aktif dan memperhatikan guru walaupun ada beberapa yang melakukannya sambil tiduran dimeja.
       Tetapi guru kewalahan dalam mengontrol murid agar tetap kondusif dalam proses belajar.
Analisa teori:
       Siswa SMP  berada pada tahap operasional Formal, karakteristik tahap iniyaitu kemampuan berfikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang di terima.
       Siswa SMP Dharma Pancasila kelas 8E tergolong pada siswa yang aktif dan sangat interaktif. Mereka bahkan memberikan masukan-masukan atas pertanyaan yang dilontarkan oleh guru mereka.
      Sebagian besar dari murid adalah deep learnedan sebagian lagi surface learnerMurid dengan deep learner focus dalam belajar, bertanya jika tidak mengerti dan menjawab pertanyaan .
       Setiap murid memang berbeda, oleh sebab itu disinilah peran seorang guru didalam kelas dalam memberikan pembelajaran sangat penting.
      Guru menggunakan pendekatan teacher-centered dengan metode instruksi langsung dimana guru memberikan penjelasan dan bertanya hanya tentang pelajaran Bahasa Indonesia (alur)
      Guru menggunakan salah satu strategi instruksional Teacher-Centered dengan comparative advance organizer dimana guru memberikan materi baru dengan menanyakan dan mengaitkan dengan pelajaran sebelumnya.
      Guru juga menggunakan method Tanya  jawab suatu cara mengelola pembelajaran dengan menghasilkan pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan siswa memahami materi tersebut.
      Saat mengajar, guru menyatakan  kepada murid bahwa jangan melupakan pelajaran yang sudah lalu, karna guru akan bertanya tentang pembelajaran yang sudah lewat, agar murid tidak melupakan pembelajaran yang sudah lewat juga.
      komuniukasi antara guru dan murid sangat baik tetapi terkadang keadaan tersebut membuat kondisi kelas menjadi kurang kondusif.
      memberikan pembelajaran yang sudah pernah dilakukan membuat murid menjadi lebih mengerti dan sangat interaktif.
      dalam hal ini guru harus dapat mengelola kelas secara efektif dengan senang dan percaya diri, karna kemampuan tersebut sangat berdampak pada pencapaian prestasi belajar didik.

Kesimpulan Hasil Observasi :
Dari hasil observasi yang kami lakukan dapat kami simpulkan bahwa dalam proses belajar mengajar, peran guru sangat penting menunjang bagaimana murid menerima pembelajaran, terkadang cara mengajar guru yang baik dan efektif menjadikan pemahaman yang baik bagi murid dan banyak guru digemari oleh setiap murid, bukan hanya pada guru saja, tetapi murid juga diharapkan ikut aktif dan tetap pada tata krama, keadaan ini akan menunjang proses pembelajaran yang baik.

Belajar juga didukung oleh lingkungan sekolah, serta sarana prasarana didalam sekolah seperti
laboratorium, perpustakaan, ruang media, dll. Hal ini bertujuan untuk memudahkan setiap siswa
mengakses pengetahuan (ilmu).
Tata ruang yang baik juga mempengaruhi kondisi belajar siswa. Dimana jika ruangan terlihat
kotor dan berantakan membuat siswa tidak betah didalam ruangan tersebut

Kesan Observasi Kelompok:
Selama kegiatan observasi kami sangat bersemangat dan sangat senang bagi 4 anggota kelompok
kami ini menjadi pengalaman pertama kami. Kami merasa sangat gugup awalnya, tetapi ketika
sampai disekolah kami menikmati observasinya.
Siswa siswi SMP Dharma Pancasila sangat menyenangkan, mereka ramah dan sangat antusias,
kegiatan observasi kami berjalan dengan baik, kami juga di terima oleh kepala sekolah dan staf
pengajar dengan baik. Kami berharap observasi kami ini dapat berguna nantinya.